Khitbah Ku di 1 Ramadhan

0

Sepenggal cara Allah mempertemukan kita atas keberanian khitbah ku.

khitbah

khitbah

Allah telah menggerakan jemari ini,

Untuk menuliskan cerita khitbah ku  ke dalam website duniajilbab.co.id

Cerita khitbah yang melukiskan perasaanku kala itu, hingga separuh malam berlalu masih asik saja ku lantunkan jemariku, ku ketikan khayalan panjang malam itu di temani lirih lagu syahdu, lagu yang juga tentang dirimu…

Terlelap sesaat…

Dingin menusuk hingga ke lubang pori, adzan subuh pertanda datangnya pagi menghantarku ke masjid di sudut kota Depok Masjid Jami’ Mardhotillah, Tempat ku memohon, Tempatku mengharap, Tempatku berdoa kau menjadi miliku…

Setelah usai semua doaku dengan mantap ku langkahkan kaki, ku selesaikan narasi cerita dalam cerpen itu…

Lalu ku posting dalam blog. Kok dejavu ya?

Sms darimu yang ku terima setelah tautan blog terbaca olehmu…

Perasaanku tak menentu aku takut dirimu justru menjauhiku setelah kau tau bahwa cerita itu memang untukmu…

Satu hari seperti seribu bulan tak kunjung tiba lagi sepenggalpun sms darimu, galau hatiku, kalo kata anak muda jaman sekarang…

Hampir 24 jam setelah ku lalui tahajud & istikharah yang panjang. Allah tunjukan lagi sepenggal cara-Nya untuk mempertemukan kita. Dalam kehidupan ada 3 hal yang tidak akan kembali :

  1. Waktu
  2. Ucapan
  3. Kesempatan

Perjuanganku berlanjut hingga tiba separuh malam 26 februari, dengan cinta ku langkahkan kaki ku ukir sejarah indah keberangkatanku untuk menemui orangtuamu.

” Sepucuk Surat Untuk Jasmine” ( 3 Ramadhan 1432H / Agustus 2011)

(Setelah khitbah ku  atas dirimu *1 Ramadhan 1432H*)

Taukah jasmine, ketika ku bersamamu tanpa sengaja ku melihat keindahanmu.

Aku menatap indah keanggunan dihadapku, inginku berlama – lama menikmati keindahan yang ada di taman hatiku itu. Tapi apakah Dari-Nya keindahan sesaat itu?

Jawabnya bukan dari Dia Jasmineku. Syaitan yang telah menyematkan keindahan itu, keindahan sesaat yang mengatasnamakan cintaku.

Jasmine, aku tau engkau mampu menjaga indahmu. Didalam kalbu imanku kepadaNya juga menjagaku, namun bukankah tipu daya syaitan itu memang ada? Bukankah syaitan yang ingkar itu telah berjanji kepada Allah untuk juga membawa kita ingkar kepadaNya.

Dari itu jasmine, ingatkanku ketika aku lupa, ingatkan aku akan Adam yang dihukum Allah, karena Syaitan hingga beribu tahun terpisah dengan Hawa kekasih hatinya.

Jasmine, engkau yang ku harapkan menjadi halal bagiku juga bukankah halal yang engkau harapkan?

Dari itu, biarkan engkau mekar di taman hatiku, namun sedikitpun jangan izinkan aku menyentuhmu, hingga InsyaAllah tiba saat halal nanti.

Wahai Jasmine yang menghisai taman hati, dari hati ku niatkan untuk tak mendekatimu, dalam angan ingin ku jaga indah warnamu, sebagai amanah dariNya. InsyaAllah hingga tiba saat itu yang ku nanti. Tapi tentupun engkau tau, tipu daya syaitan itu sering meluluhkanku, mengatasnamakan rindu ia sisipkan fitnah dalam taman hati yang dahulu gersang sebelum hadir keindahanmu.

Cinta itu sungguh indah jasmineku, dari Dia lah Yang mencintai keindahan cinta itu datang, Dialah Yang Maha indah, sang pencipta cinta dan diakhir nanti dihadapNya semua akan dipertanggungjawabkan. Sepucuk surat ini ku tulis dengan satu harapan, menghantarku hingga saat halal yang ku nanti itu, demi mendapat RidhoNya, demi menjalankan sunah RasulNya, demi menyempurnakan separuh agama dariNya, demi keselamatan & kesejahteraan dunia akhirat. Amin.

 

15 September 2011

Dan akhirnya  tiba saat yang dinanti setelah khitbah ku, engkau menjadi separuh nafasku, ku rengkuh cintamu dengan ikrar yang suci “ku terima nikahnya dengan mas kawin tersebut”  genggaman erat wali nasab & ucapan kalimat ijab dengan lancar ku sambut. “Sah.. Sah”, seru para saksi yang ditutup dengan hamdallah.

AlhamdulillahiRabbil Alamin…

“Barakallahu laka wa barakallahu alaika wa jama’a bainakuma fii khair”, ku genggam erat tanganmu  dan ku tatap wajah bahagia, ketika berkali – kali doa itu terbisik ditelingaku.

Duh indahnya… Lagi – lagi ku genggam erat tangan lembutmu, ku bisikkan kata – kata mesra, ku tatap engkau lebih lama, lalu ku panggil dengan sebutan cinta, sesuka hati..

Sungguh Berbeda setelah hari  khitbah ku itu, berjuta kata bisa kubisikan ditelingamu, aku ulangi berkali – kali dengan lembut bisikan padamu istriku tercinta.

Bisikanku kala itu, “Cinta… Sekarang kita telah dipersatukan, atas keberaniah khitbah ku waktu itu. Kita masing masing adalah malaikat bersayap satu, yang tak akan bisa terbang tanpa berpelukan..

Engkaulah separuh nafasku..

Khitbah Ku di 1 Ramadhan
4.41 (88.24%) 17 votes

Profile Status
ACTIVE
Artikel ini sudah dilihat 0 kali
Share.