Featured Inspirasi Hijrah

Teruskan Hijrah mu, Jangan Biarkan Hidayah Pergi



Saya akhirnya tahu, salah satu hal paling menyakitkan bagi seorang yang memutuskan hijrah adalah ketika ia menemukan dirinya stuck, jalan ditempat, menemukan dirinya berada dititik yang itu-itu saja, tidak lagi terjadi perubahan apa-apa.

Saya akhirnya baru memahami, hijrah adalah proses yang mutlak harus terus berjalan. Bahwa ada sesuatu yang sedang dituju, ada target yang hendak dicapai. Sepanjang hayat, baru berhenti Ketika nafas telah terhenti. Demi menjadi Mulia dihadapanNya.

Kegelisahan itu datang perlahan-lahan. Merambat memenuhi segenap jiwa dan perasaan. Dan kian hari kian memuncak hingga akhirnya saya tersungkur atas perasaan kecewa terhadap diri sendiri.

Masih lekat di ingatan, betapa nikmat yang terasa di awal perjalanan hijrah ku. Meski dihadang banyak tantangan, tapi menemukan diri mengalami satu persatu perubahan, senantiasa berpindah ke titik yang baru dan lebih baik sungguh memberi kenikmatan yang tiada ternilai.

Saya adalah seorang yang hijrahnya benar-benar setahap demi setahap. Dari menggunakan jilbab leher, berpindah ke jilbab menutupi dada ukuran M, lalu ukuran L, ukuran XL dan kini Alhamdulilah telah terulur panjang dan Insya Allah menuruti aturan syar’i.

Dari sholat yang bolong-bolong, menjadi rutin tp tidak tepat waktu, menjadi tepat waktu tapi terburu-buru, lalu mulai belajar khusyu, lalu mulai belajar merutinkan qabliyah dan ba’diyah, lalu belajar melengkapinya dengan dhuha dan tahajjud. Benar benar setahap demi Setahap. Begitu pula ibadah dan amalan lainnya.

Meski masih jauh dari sempurna tapi sungguh saya menikmati setiap proses dan tahapan yang kulalui. Sungguh tidak ada kenikmatan yang lebih bernilai daripada menemukan diri selalu berubah dan tumbuh menjadi lebih baik.

Tapi, bukanlah hijrah namanya jika ia bebas dari ujian keistiqomahan. Memasuki suatu fase baru dalam hidupku, saya terlena dengan kesibukan duniawi. Betapa setan sangat lihai dalam memperdayakan manusia, pun Allah mungkin ingin menunjukkan betapa masih goyangnya imanku.

Saya menjadi sibuk kembali dengan kegiatan dunia. Bercampur baru dengan perkumpulan yang tak membawa maslahat. Dengan dalih, saya telah hijrah. Saya tak akan tergoda untuk melakukan hal-hal yang salah lagi.

Rupanya saya tertipu oleh diri sendiri. Pembenaran pembenaran yang saya buat justru melanggengkan diri pada lingkungan yang tak mendukung proses hijrah ku.

Hingga akhirnya Allah menegurku. Dari kekecewaan pada orang orang sekitar juga kesenangan yang terasa hampa akhirnya perlahan lahan hatiku mulai terusik. Saya jadi sering bertanya tanya sepertinya ada yang salah dalam diriku.

Saya mulai bermuhasabah dan merenungi kembali perjalananku. Astagfirullah, ternyata ada yang perlahan hilang dari diri ini. Saya hampir kehilangan kenikmatan berhijrah. Terlebih ketika saya menyadari bahwa dalam rentang waktu yang cukup lama ini tidak ada lagi yang berubah dalam diriku. Bahkan penyakit hati mulai kembali menggorogoti, kecintaaan pada dunia kembali memenuhi pikiran. Aku mulai sama kembali dengan yang lain, Hanya tersisa penampilan luar yang masih terlihat Sholehah.

Sejak menyadari itu, relung hati ini semakin terasa sakit. Perasan kecewa pada diri sendiri membuatku amat terluka.
Aku hampir kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku, Hidayah.

Tapi saya meyakini. Sebab Allah masih menegur, berarti masih ada kesempatan.
Saya kembali menata diri, berusaha memperbaiki apa yang harus diperbaiki.

Saya bertekad, hijrah ini tak boleh berhenti. Ia harus terus berjalan hingga akhir hayat. Saya harus bersegera dan Bersungguh sungguh dalam mengejar kebaikan dan ridho Allah.

Klik tombol love untuk menyukai artikelnya

Dengan menyukai, kalian telah membantu kami untuk menunjukan mana artikel terbaik. Jazakumullah Khairan Katsiran 🙂

Laman: 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *