Featured Inspirasi Hijrah

Pengorbanan demi Agamaku



Assalamualaikum.wr.wb. 😊
Pertama tama saya mohon maaf jika apa yg saya ceritakan ini membuat teman-teman ada yang kurang suka, karena saya masih baru-baru berhijrah, takut kalau saja ada salah kata atau tindakan.

Saya langsung aja ya…

Sebelum saya berhijrah menjadi seseorang yang lebih baik, masa lalu saya sangatlah kelam, saya berkecimpung didunia yang benar-benar hitam astagfirullah 😭 saya tidak pernah memikirkan dosa apalagi sholat, yang saya tau hanya kebahagiaan disaat bermaksiat tsb.

Sebelum saya berhijrah saya bertemu dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami saya, kami menikahpun karena saya sudah memiliki seorang anak, seiring berjalannya waktu saya merasa tidak ada kecocokan dengan suami saya, karena kami menikah beda agama, suami saya seorang kristiani dan saya muslim, banyak sekali perbedaan pendapat yang memicu perkelahian diantara kami.

Untuk ukuran suami ia memang patut diacungi jempol sih, yang kurang hanya toleransi dalam beragama. Entah dari mana juga saya pada akhirnya mendapatkan hidayah, saya lama kelamaan jadi pingin sholat, jadi takut berbuat maksiat, dan sayapun alhamdulillah mau menjemput hidayah tersebut, seperti banyak orang bilang kebanyakan, bahwa hidayah itu harus dijemput bukan hanya ditunggu saja.

Akan tetapi masih saja ada halangan yang membuat saya mau beribadah itu terganggu, yaitu suami saya, saya ingin melaksanakan sholat sepertinya tidak bisa bebas, karena saya tau pernikahan saya dengan suami sepertinya tidak SAH secara agama, karena kami menikah berbeda agama.

Sayapun terus berfikir apakah saya sebaiknya minta cerai saja. Ini posisi saya sudah memiliki 1 orang anak perempuan. Dan suatu saat sayapun memberanikan diri untuk meminta cerai dari suami saya, saya beralasan bahwa dalam agama saya memang kita tidak SAH dalam pernikahan, jika kita terus bersama sudah pasti itu dinamakan zina.

Untuk reaksi suami saya sudah jelas ia tidak setuju sebenarnya dengan perceraian, akan tetapi ia melihat kekukuhan saya untuk bercerai, sehingga ia pun menyetujui perceraian ini, diantara kami jelas saja masih ada rasa sayang dan Cinta, tetapi saya berfikir lagi bahwa saya harus menyelamatkan diri saya dan anak saya dari siksaan api neraka kelak.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu saya dipertemukan dengan teman-teman yang sholehah, saya seperti dituntun terus menerus untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi. Ya menurut saya untuk berhijrah memanglah tidak midah, dan kita harus berani juga dalam mengambil keputusan untuk bisa menjadi dekat kepada Allah, sekalipun seperti saya, yang harus rela bercerai walaupun sudah memiliki seorang anak yang masih kecil.

Tetapi saya yakin Allah pasti Ridho dengan keputusan saya, karena suami juga tidak mau saya ajak masuk muslim. Jadi untuk apa juga saya mempertahankan pernikahan yang jelas lebih banyak dosanya. Memang awal-awal saya juga takut jika saya cerai hidup saya kedepannya seperti apa, tapi saya memberanikan diri untuk membuat keputusan ini. Semoga Allah terus menuntun saya untuk menjadi seorang wanita yang taat akan perintah Allah, dan bisa membimbing anak saya agar tumbuh menjadi anak sholehah. Aamiin allahumma aamiin.

Sekian dari cerita hijrah saya, Semoga meginspirasi ya ukhti..  Wassalamualaikum wr. Wb

Klik tombol love untuk menyukai artikelnya

Dengan menyukai, kalian telah membantu kami untuk menunjukan mana artikel terbaik. Jazakumullah Khairan Katsiran 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *