Inspirasi Hijrah

Mencintai dan Nafsu Sulit Dibedakan



Awal saya tergerak untuk memposting cerita ini setelah membaca kumpulan cerita dalam “Kutinggalkan dia karena Dia”. Sebenarnya ini adalah aib dan saya sangat malu untuk menceritakannya, tapi saya sudah lelah menyimpannya sendiri. Saya merasa ingin membaginya agar tidak ada lagi wanita-wanita yang bertindak sebodoh saya.

Ini adalah pengalaman saya semasa SMA. Sejak kecil saya termasuk anak yang cerdas dan berprestasi, namun semuanya berubah saat saya mengenal mencintai. Saya memang bukanlah anak yang dapat dikatakan soleh, orang tua saya juga bukanlah orang tua yang mengetahui agama secara dalam, namun orang tua saya selalu membiasakan saya untuk tidak meninggalkan shalat yang merupakan tiang agama dan mengaji.

Awal cerita saya ini dimulai dengan pertemanan saya dengan seorang anak laki-laki non muslim yang berujung menjadi pacaran.  Laki-laki tersebut sangat baik hati, perhatian dan taat pada agamanya. Saat tumbuh rasa sayang diantara kami, saya selalu berusaha untuk menghindari perasaan ini. Saya selalu menolak saat dia mengajak saya berpacaran. Namun keimanan saya pun goyah. Meskipun tidak ada kata-kata resmi bahwa kami berpacaran, namun tindakan kami seperti orang pacaran.

Seperti anak muda lainnya, awal pacaran kami hanya sekedar jalan dan ngobrol namun lama-kelamaan dia mulai memegang tangan, kemudian c**man hingga kami berada ditahap yang sangat buruk yaitu hingga melakukan o**al s*ks. Saya tau perbuatan kami ini salah dan dosa besar. Meskipun saya selalu menyesali perbuatan saya ini, namun sekali sudah merasakan godaan setan makin sulit untuk dihindari. Namun sepertinya Allah masih menyayangi saya untuk tidak melakukan hal lebih jauh lagi sampai merenggut keperawananku. Batin saya selalu menolak, namun saya sangat takut apabila saya tidak mau melakukannya laki-laki tersebut akan meninggalakan saya. Saat itu saya sangat dibutakan akan mencintai. Saya bisa saja berlutut dan menangis dihadapannya untuk meminta maaf saat kami bertengkar. Saya sangat takut dia meninggalkan saya. Saya rela lakukan apa saja buat dia. Saat itu saya berpikir bahwa saya akan merasakan kasih sayang dari dia apabila saya berikan segalanya. Saya tidak menyalahkan laki-laki tersebut, kemaksiatan terjadi karena kita berdua. Kami berdua sebelumnya sama-sama belum pernah pacaran, namun nafsulah yang merusak kami.

Semenjak pacaran, sahabat-sahabat saya mulai menjauh. Kehidupan saya seperti hanya sebatas saya dan dia. Lama kelamaan prestasi di sekolah pun rusak karena hampir setiap hari saya hanya pacaran, pacaran dan menangis. Hubungan dengan orang tua pun merenggang. Saya berpacaran diam-diam karena dia seorang non muslim saya tau pasti orang tua saya akan menentangnya, hal ini membuat saya terus membohongi orang tua saya. Saat Ibu saya melihat mata saya bengkak karena menangis, saya justru berbohong mengatakan saya sedang bertengkar dengan sahabat saya. Saat mood saya tidak baik, yang saya lakukan hanya marah-marah saja termasuk kepada kedua orang tua saya. Begitupula dengan agama. Saya menjadi tidak pernah shalat. Saat bersama dia, karena dia tidak shalat maka saya pun menjadi melupakan kewajiban saya itu. Terkadang saya merasa hina pada diri saya sendiri, saya merasa malu untuk menghadapkan diri saya pada Allah SWT. Pemikiran saya inilah yang membuat saya sangat jauh dari Allah. Semakin saya jauh dari Allah maka makin rusaklah saya.

Seperti yang saya kutip dari “Kutinggalkan dia karena Dia” :

Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil riset bahwa sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh. Penyebabnya bukan karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia dalam otak yang mengaktifkan rasa mencintai itu telah terkikis. Rasa mencintai yang menggila pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari empat tahun (saja!). Selebihnya, mencintai itu akan hilang. yang tertinggal adalah hanya dorongan s*ks dan bukan mencintai yang murni lagi.

Assalamu’alaikum Sahabat Shalihah
Klik tombol love untuk menyukai artikelnya

Dengan menyukai, kalian telah membantu kami untuk menunjukan mana artikel terbaik. Jazakumullah Khairan Katsiran 🙂

Laman: 1 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *