Mah,Pah … izinkan aku berhijab syar’i

0
224

Aku Via (21), saat ini alhamdulilah tetap konsisten berhijab walaupun belum sepenuhnya sempurna (syar’i). Jika orang-orang melihat saya saat ini, mungkin akan berkata “oh ini ngikutin mamahnya yaaa” atau “alhamdulilah ya, anaknya mau dijilbab kayak mamahnya”. Aku cuma senyum sambil melihat mamah merasa malu walaupun sama-sama memakai hijab. “mamah malu kak” itu yang terlontar dari mulutnya, “kenapa mah? bagus dong.. semua orang bakal memandang mamah itu punya pengaruh yang baik buat aku, contohnya aja tentang hijab tadi :)” jawabku-yang sebenarnya tau kalau kenyataanya akulah yang mengajak mamah berhijab. Nah dari cerita ini, aku bakal ngasih tau cerita awal aku berhijab…

Keinginanku untuk berhijab sudah ada ketika SD, iya bukan sekedar lucu-lucuan anak SD pake kerudung (bukan :)). Alasannya karena risi memakai rok selutut dan memakai lengan pendek-walaupun kata mamah rambutku sangat bagus dan sayang jika ditutupi. Rasa takut dan ke hati-hatian pada lingkungan sekitar (gara-gara sering nonton berita sendirian di rumah) membuat aku waspada dan ingin melindungi diri (padahal ilmu agama pun yang diajarkan masih sebatas iqra). Namun keinginanku ditolak mentah-mentah, karena mereka agak “ribet” lihat anaknya memakai rok panjang.

setelah sabar dan menerima jawaban orangtuaku (karena aku takut dosa jika melawan), ketika SMP aku mulai kembali ingin memakai jilbab, suatu hari ketika keluargaku di tempat makan dan aku memakai jilbab-yang aku beli sendiri dengan uang jajanku. Ayahku menertawakanku dia bilang bahwa aku seperti “emak-emak” dan “kampungan”, disusul dengan ketawa ibuku.. iya, sakit rasanya-sampai aku melepas jilbabku sambil menangis. Aku tau aku bukan anak yang cantik dan gaul seperti anak-anak teman orangtuaku, aku cuma ingin pakai jilbab, aku ingin jika aku berada dimana saja aku tenang dan aman.

Aku masih belum berhijab sampai SMA awal.. iya masih belum. Ada lelaki di kelasku berkata “ko kamu ga dikerudung?” saat itu aku spontan jawab “gaboleh sama orangtua”. Iya aku salah, temanku juga mengira aku hanya beralasan dan bingung-masa iya orangtua ngelarang. Hingga saatnya ketika bulan ramadhan-hampir malam ke20 lebih aku gelisah, bosan dengan keadaanku yang sekarang-tidak berjilbab,baju pendek dan aku berdoa kepada Allah, entah apapun jalannya dan hambatannya, aku siap untuk berhijab-apapun respon orangtuaku ataupun teman-temanku.

Iya, aku sudah kebal dan harus bisa melawan semua. Berbekal uang jajan 10rb setiap hari yang aku sisakan sebagian untuk membeli seragam dan kerudung yang panjang-FYI panjang kerudungnya dibawah dada ya 🙂 aku ga tanggung-tanggung buat berkerudung. Dan sampai di sekolah, semua memandangku ada yang pro dan kontra pastinya. Namun lucunya semua mengira bahwa aku dapat hidayah malam lailatul qadar, aku cuma senyum. Jujur, selama aku SMA hingga lulus, uang seragam aku kumpulkan sendiri dan meminjam baju batik sekolah kepada kaka kelas yang sudah lulus (makasih teh Putri :)). Orangtuaku sengaja tidak membelikan aku baju/seragam panjang untuk sekolah maupun keseharianku, apalagi kerudung 🙂 mereka hanya akan membelikan aku baju yang pendek (bukan untuk berhijab).

Pada masa awal kuliah pun mulai menjadi cobaan besar, jika pada SMA aku ke sekolah memakai seragam-yang warna dan bentuk sama setiap harinya. Kini kuliah yang tidak ada seragam dan memungkinkan bergantinya baju setiap hari merupakan ujian bagiku. Aku butuh pakaian untuk mendukung berhijab, namun mamah memberikan penawaran “kalo mau mama belikan  baju, mama bakal beliin kamu baju yang kaya gini (lengan pendek, pas badan)”.

Mungkin mamaku malu dengan sindiran teman-temannya yang berkata “ih anaknya kerudungan, mamahnya kok ngga?”. Hancur duniaku… hancur sudah… karna “kepepet” akupun menerima tawaran mamaku, yaa daripada aku tidak ada baju lagi-karna saat itu aku sedang pertumbuhan dan baju lama memang sudah mulai tidak muat. Awal kuliah, aku lepas hijabku… MALU-sangat. Beberapa teman lamaku bertanya “kerudungnya kemana?” aku hanya mengalihkan pembicaraan, masa iya aku jujur bilang “dilarang sama mamah, gaboleh dikerudung”, aku takut mamaku malu. Iya, aku masih menyelamatkan orangtuaku dengan image baik, sementara aku dipandang kurang baik.

 

Hingga akhirnya, aku bertemu teman yang kembali mendukungku untuk berhijab-walaupun ia takut dengan orangtuaku karena tidak punya hak. Tapi ia mendukung penuh, sehingga aku mulai kembali berhijab di  semester 4-dengan modal 2 buah kerudung yang hampir seminggu aku memakainya bergantian ketika ke kampus. Ketika pulang ke rumah, orangtuaku melihatku berhijab.. Pasrah, biarin dikritik juga gapapa… Namun, mereka sepertinya membolehkan. Akupun kembali membeli kerudung, pashmina dengan uang sendiri seperti dulu. Mamahku mungkin merasa agak malu kalau keluar rumah bareng aku kalau ga dikerudung, ia pun mulai memakai kerudung walaupun kata dia risi dan gerah. Aku mulai mencari cara bagaimana mamahku nyaman berkerudung, video tutorial, buku ttg hijab yang menarik aku belikan agar mamah tidak memandang bahwa berhijab itu kuno (walaupun aku memperlihatkan gaya hijab yg belum syar’i, tapi setidaknya bertahap).

Semester 6 akhir, rasa berhijab “gaul” sudah dalam tingkat bosan, lelah dan tidak nyaman. Aku ingin kerudung yang tidak lilit sana lilit sini, bosan dengan jarum pentul, peniti, cepol rambut, baju mix and match dengan celana bahan-FYI aku udah gasuka pake jeans sejak awal berkerudung ketika kuliah 🙂 dan lain-lainnya yang serba gaul seperti di instagram saat ini.

Ketika aku melihat beberapa akun selebgram yang berhijab syar’i dan teman kampus yang mulai hijrah, ada niat di hati ingin seperti itu. Tapi aku sadar diri, berhijab seperti sekarang saja sudah alhamdulilah walaupun masi banyak cobaan. Namun, keinginan syar’i selalu menghantui-iya setiap malam, setiap shalat dan ketika keluar rumah, apalagi saat berkaca. Ketika jalan ke mall sama keluarga, aku sering iseng berkata “mah pah kalo aku pake baju itu gimana ? bagus kan?” yaaa walaupun mereka tidak menjawab atau bahkan menolak dengan kata-kata “ih ribet itu sih”, “gombrang banget bajunya, susah aktifitas” “kurang cocok di kaka” “ih kayak apaan, ribet”. haha -__- sudah kebal diriku ini. Sampai suatu saat mamah cerita, kalau sebenarnya papa kurang suka kalo mama berhijab, ternyata mama aku berhijab kalo jalan sama aku aja … iya aku kaget, pantas saja anaknya dilarang pakai. Sampai akhirnya aku berkata pada papah ketika debat tentang hijab panjang “pah, aku gamau papah masuk neraka, dosa anak perempuan kan ditanggung papah. Aku kasian sama papah” … Kalian tau ? dari situ papah diem, dan tidak pernah mengomentari aku dan tepatnya membebaskan ku berhijab seperti apapun, walaupun kadang suka menyindir “kaya anak pesantren” ketika aku mulai memakai khimar hahaha gapapa… Yang penting aku nyelamatin papa :). Dan insyallah sehabis lebaran tahun ini juli 2015, aku mulai membeli khimar dan gamis-tentunya ngumpulin sendiri :). Apapun hambatan nanti, Mah Pah … Izinkan aku berhijab syar’i 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini