Cerpen Islami

0
79

TEOREMA PYTHAGORAS MERUMUSKAN CINTAKU”

Hijrahku selama ini membuatku terasing diri dari kehidupan nyata. Tapi, membuatku semakin terdekatkan dengan mahabbah cinta-Nya. Pedih memang rasanya, pahit memang perjuangannya, lucu juga bila kuingat tingkahku dulu sebelum ini. Cinta! Ya, cinta haqiqi yang membuatku berubah. Perjalanan cinta haqiqi yang kuingat saat itu ..
Setelah selesai mandi, aku melanjutkan duduk di kursi meja makan sambil menonton si biru doraemon, sambil menikmati breakfast dengan sepotong roti selai bluberry.
“Aduh, jam doraemonku sudah hampir menunjukkan pukul 07.30 ! Ma … Fya berangkat dulu” teriakku.
“Iya sayang, Papa sudah menunggu didepan”
“Okey Ma!”

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Saatku melihatnya …
“Aduh … kok hatiku jadi deg-degan gini! Ada apa yaa? Rasanya kayak Sisi yang lagi kasmaran ama Digo. Hehehe .. mungkin, karena setelah dia ngirim surat padaku! Fya… Fya … ada-ada aja!” bisik hatiku yang sedang bingung dibuatnya.
“Hey ! annyeong haseyo Fya, kok senyam-senyum sendiri? Apa karna kemarin ..” tanya Syafira, menepuk pundakku dari belakang.
“Stop! Apaan sih, orang Fya lagi pengen senyum aja … emang nggak boleh ?!” ketusku.
“Eh, Fira cuman nanya doang, kok malah ngambek kayak setan gituh! Biasa aja keles”
“EGP!” gumamku sambil melirik sinis mengalihkan pandangan, memutar balik badan menuju kelas.
“Inget Fya … jaga hati lho, tambah jaga lisan juga! Qul khairan !” teriak Syafira dari belakang.
“Assalamu’alaikum …” sapa Bu Novi.
“Wa’alaikumsalam …” jawab anak-anak serempak.
“Anak-anak, sekarang kita akan mengulang materi tentang teorema pythagoras” ucap Bu Novi sambil membuka buku matematika kelas IX yang lumayan agak tebal.
Kriingg… krriinngg …
Bel istirahat pun berbunyi kencang.
Aku melirik kearah teman-teman yang sedang asyik mengunyah makanan.
“Eh, generation girls! Do you know about love? Menurut kalian semua, apa itu cinta?” tanyaku.
“Aku tau …. uhuk uhuk eemmm keselek” jawab Riska sembari mengambil air putih untuk diminum.
“Makannya, kalo makan itu jangan sambil bicara!” sahut Diviya.
“Gini yaa … cinta itu kayak marmut lucu, warna merah jambu yang berlari di sebuah roda” gumam Riska.
“Bentar .. Bentar .. menurutku ..” sambung Diviya sambil memikirkan lanjutannya.
“Eits ! lagi pada ngapain sih? Lagi ngomongin cinta yaa ? ciee ciie .. daripada Fya bingung, tanya aja ama murobii Fira yang tau segala hal tentang cinta” gumam Syafira.
“Apa? Muribu … rimubi .. muro … muro ..”
“Murobii” teriak Syafira.
“Yaa itu, murobii!”
“Kamu ini kuper ya Fya! Ngomong murobii juga sambil di eja! Makannya, gaul itu yang syar’i!”
“Da aku mah apa atuh yaa! Aku ini nggak kayak kamu Fira, yang jilbaber, kayak ustadzah, so ‘alim tau!”
“Emm … this is my way! Ini caraku yang indah, Fya!”
Aku melangkahkan kaki keluar kelas dan memandang jauh kearah kelas IX E yang terletak diujung sekolah SMPN 19 Bandung. Seketika, aku melihat Dimas sedang mengobrol berdua sama Nesya didepan kelasnya. Air mataku terurai..
“Makannya Fya! Jaga pandangan, letakkan cinta sesuai tempatnya. Just for Allah swt. Hadapi cinta dengan tenang, rendah hati, sebab cinta itu nggak kyak Nobita yang cengeng ataupun Giant yang merasa lebi kuat, nggak juga kayak Fyaqilla yang terlalu berharap! Heheheh … peace! Cinta itu semestinya kyak doraemon yang penuh keajaiban, karena cinta itu rasa yang Allah anugerahkan pada kita. Iya kan?” ucap Syafira yang tiba-tiba menghampiriku dari belakang.
“Hmmm …” air mataku semakin tak bisa dibendung.
“Istighfar Fya! Kamu ini lagi terkena VIRUS MERAH JAMBU alias VI EM JI yang bisa menghancurkan segalanya!”
“Tapi Fira …”
“Okeh, ujian bagi akhwat alias gils itu adalah kesabaran yang diuji untuk keta’atan kepada Allah”
“Sorry yaa .. tapi, aku cuman uji nyali doang buat ngadepin pacaran!”
“Uji nyali itu bukan sayang pada pacar, tapi .. mengatakan dengan lembut kepada orang tuamu ‘ Aku mencintai kalian Ayah, Ibu”
***

Hari ini, aku sudah ada rencana sama Fira untuk saling wawancara soal kemarin. Aku menunggu Fira ditaman dekat perumahanku.
“Hey!” sapa Syafira dengan teriakkan yang lantang.
“Fira, come here!” teriakku.
Fira duduk disampingku, perlahan dia melontarkan kata-kata.
“Fya … nih, aku dapet nasehat dari murobii waktu ngaji malem! Tapi kamu harus janji dulu!”
“Janji apaan?”
“Janji untuk berubah! Be a good moslem! Promise yaa”
“Ya deh .. iya”
“Tapi ada syaratnya …”
“Ya, syarat apaan Fira?”
“Dimulai dari besok, Jaga pandangan, Jaga hati, Jaga pikiran juga jaga jarak dengan cinta!”
“Emmm .. gimana caranya?”
“Allah yang akan memberi hidayahnya, tapi hidayah itu harus dicari, and nggak bisa dateng sendiri”
“So …”
“Gini yaa …kembali tentang tadi yang mau aku sampein buat Fya! ‘Memang tidak semua orang berPACARAN itu melakukan zina, tapi setiap zina diawali dengan aktivitas PACARAN’ itu semua dicantumkan dalam QS. Al-Isra ayat 32”
“Well .. Well .. Well”
***
Hari pertama aku memakai jilbab, hari keduanya aku mencoba menjaga pandangan, hari ketiganya juga aku mencoba menjaga hati, dan .. alhamdulillah hari keempatnya aku bisa menemukan cinta haqiqi.
“Jagalah hati!”bisik hatiku.
Bdg, 04 Maret 2015 21:30 P.M.
Hi Diary!
Diary, aku mencoba mengenal diriku sendiri. Talking dulu yaa ..
“Diri, ya Farah Fyaqilla Sidqi! Maaf aku telah membuatmu lelah dengan puzzle hidup yang berantakan ini, pergaulan yang rese! Cinta yang aneh, kuno malahan! Coba dari dulu aku gaul syar’i, pasti .. Ah, Diri, Puasa Yuk! Maksudku puasa mata, hati, juga telinga. Kita jaga jarak antara Cinta!”
Huah …
Aku mulai menguap, rasanya diri ini udah capek!
“Yaa .. Allah, aku telah keliru! Telah membuat-Mu cemburu karna cintaku pada makhluk-Mu yang fana. Astaghfirullahaladzim … ! karenanya, mohon pautkan hatiku hanya pada cinta-Mu. Antara Aku, Allah dan Kamu! Just the triangle of love”
Karya: Siti Fathimah Muthmainnah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini