Benci Membuat Kisah Cintaku Begitu Menyedihkan

Memilih calon suami menurut Islam? Apakah salah? Apakah salahku jika ku ingin memilih calon suami menurut islam? Ya, mungkin seharusnya aku bisa memilih, memilih calon suami menurut islam seperti yang aku inginkan. Seandai nya saja semua hal itu tidak terjadi yang justru sekarang membuatku merasa hampa.

memilih calon suami menurut islam

Aku sungguh membencinya, itulah yang selalu kukatakan dalam hatiku hampir di sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikah dengannya, aku benar-benar tak pernah menyerahkan hatiku padanya. Menikah oleh karena adanya paksaan dari orangtua, sehingga membuatku membenci suamiku sendiri. Orang tuaku tak menginginkan ku untuk ta’aruf, aku terpaksa mengikuti keinginan kedua orangtuaku. Aku pun tak bisa memilih calon suami menurut islam, dan akupun tidak tau bagaimanakan cara memelih calon suami menurut islam tersebut. Hatiku selalu diliputi oleh kebingungan akan perasaanku sendiri.

Walaupun menikah dengan terpaksa, namun aku tak pernah menunjukkan sikap benciku kepada suami itu. Meskipun aku membenci suamiku, aku tetap melayaninya yang merupakan tugas seorang istri. Aku sangat terpaksa melakukan semua ini karena disisi lain aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul dalam benakku meninggalkan suamiku, namun aku tak punya kemampuan finansial serta dukungan dari siapapun. Orangtuaku begitu menyukai dan menyayangi suamiku karena bagi mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka. Meskipun memilih calon suami menurut islam ini tidak sampai kulakukan, namun yang justru ku sangat ingin untuk bisa memilih calon suami menurut islam, namun tak ada yang bisa kulakukan.

Ketika aku sudah menikah, aku berubah menjadi istri yang sangat manja. Aku melakukan segala hal dengan sesuka hatiku. Begitu pula suamiku yang sangat memanjakanku. Aku pun sebenarnya tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu mengandalkan suamiku karena aku pikir hal itu sudah seharusnya setelah semua yang ia lakukan padaku. Akupun sudah menyerahkan hidupku kepada suamiku sehingga tugas nya adalah untuk membuatku bahagia dengan menuruti semua yang aku inginkan.

Di rumah akulah yang menjadi ratunya. Tak ada seorangpun yang berani dan bisa melawan ku. Jika terdapat sedikit saja masalah timbul, aku pasti selalu menyalahkan suamiku. Aku sungguh tak menyukai ketika handuknya yang basah itu ia letakkan di tempat tidur. Aku kesal melihatnya  meletakkan sendok bekas mengaduk susu di atas meja yang meninggalkan bekas lengket, aku juga benci ketika suamiku menggunakan komputerku. Meskipun hanya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah jika ia menggantungkan bajunya di dalam kapstock baju milikku, aku juga marah jika ia menggunakan pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah jika ia menelponku  hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang bersama dengan teman-temanku.
Sungguh… Andaikan saja aku dapat memilih calon suami menurut islam, mungkin takkan ku lakukan semua ini…

Akupun lebih memilih untuk tidak punya anak. Walaupun tidak bekerja, namun aku tak mau mengurus anak. Pada awalnya ia mendukungku dan akupun menggunakan pil KB. Namun rupanya suamiku itu menyembunyikan keinginannya yang teramat dalam. Sampai pada suatu hari aku lupa untuk meminum pil KB dan meskipun suamiku sudah tahu ia  tetap membiarkannya. Dan akhirnya akupun hamil dan aku baru menyadarinya ketika kandunganku sudah lebih dari empat bulan, dan dokterpun menolakku untuk menggugurkannya.

Itulah kemarahanku yang teramat sangat besar pada suamiku. Kemarahan ku pun semakin bertambah saat aku mengandung sepasang bayi kembar dan akupun harus mengalami proses  melahirkan yang cukup sulit.

Akupun berfikir dan berkata didalam hatiku… Ya, Allah, mengapa aku tak bisa memilih calon suami menurut islam? Mengapa ya Allah, mengapaaaa??? Seruku dalam hatiku. Rasa penyesalan yang teramat dalam ketika aku tidak dapat memilih calon suami menurut islam, menjauhkan ku dari semua angan-anganku tentang menikah.

Lalu aku pun memaksa suamiku untuk melakukan tindakan vasektomi supaya aku tidak bisa hamil lagi. Dengan sikap yang patuh suamiku pun melakukan semua keinginanku, karena disitu aku mengancamnya bahwa aku akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktupun berlalu sampai tak terasa, anak-anakku sudah berulang tahun yang ke-delapan. Sama seperti pagi hari sebelumnya, aku selalu bangun paling akhir. Suami dan anak-anakku sudah menunggu di meja makan. Seperti biasa, suamikulah yang menyediakan sarapan pagi serta mengantarkan anak-anakku ke sekolah.

Pada hari itu, ia memberitahuku jika hari itu adalah peringatan ulang tahun ibuku. Akupun hanya menjawab seperlunya dengan anggukan tanpa peduli dengan kata-katanya yang mengingatkanku akan di peristiwa tahun sebelumnya. Pada saat itu aku lebih memilih untuk pergi ke mal dan memilih untuk tidak hadir di acara ulang tahun ibu. Yaaaah, ini semua karena  diriku merasa terjebak dengan pernikahanku, sehingga aku juga membenci kedua orangtuaku yang telah memaksaku. Akupun berfikir, apakah selama ini aku salah selalu memikirkan untuk memilih calon suami menurut islam? Apakah aku juga salah karena selalu menginginkan untuk memilih calon suami menurut islam? Apakah salahku? Salahkah aku memilih calon suami menurut islam? Salahkah???

Sebelum pergi ke kantor, seperti biasa suamiku mencium pipiku saja yang diikuti oleh anak-anakku. Namun pada hari tersebut, suamiku juga memelukku dengan erat hingga anak-anakku menggoda ayahnya dengan ribut sambil tertawa. Saat itu aku berusaha untuk mengelak dan melepaskan diri dari pelukannya. Walaupun pada akhirnya aku ikut tersenyum bersama dengan suami dan anak-anakku. Lalu  dia pun kembali menciumku hingga beberapa kali di depan pintu rumah, seakan-akan menunjukkan rasa berat untuk pergi.

Saat mereka pergi, lalu aku memutuskan untuk pergi ke salon, karena menghabiskan waktu di salon merupakan hobiku dan tibalah aku di salon langgananku. Di salon aku bertemu dengan temanku sekaligus bertemu dengan seseorang yang tidak kusuka sekaligus. Lalu kamipun mengobrol sambil saling memamerkan kegiatan yang kami lakukan. Dan tibalah waktunya untuk membayar tagihan salon, namun aku sangat terkejutnya ketika aku sadar bahwa dompetku ketinggalan di rumah. Walaupun aku berusaha mencari didalam tasku hingga bagian terdalam aku tetap tidak bisa menemukannya. Sambil aku mengingat-ingat kegiatan apa yang kulakukan hingga dompetku tak bisa kutemukan aku pun menelepon suamiku dan bertanya kepadanya.

Saat aku tanya ia pun menjawab dan menjelaskan nya dengan perlahan dan lembut : “Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku”. Dengan nada yang sangat marah, aku pun memarahi suamiku dengan kasar dan akupun menutup  telponku tanpa menunggu suamiku selesai bicara. Tak lama handphoneku pun berbunyi dan dengan kesalnya, akupun mengangkat telpon dengan setengah membentak. “Apalagi??” jawabku. Suamiku pun menjawab “Sayang, aku akan pulang sekarang, lalu aku akan mengambil dompetmu dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang kamu ada dimana tolong katakan kepadaku?”.

Lalu aku menyebut nama salon langgananku dan tanpa menunggu ia menjawab, aku pun menutup telpon. Aku mengatakan pada kasir bahwa suamiku akan datang untuk membawakan dompetku. Pemilik Salon yang merupakan sahabatku sebenarnya memperbolehkanku pergi. Sahabatku juga  mengatakan bahwa aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi ke salon. Namun rasa malu  tak bisa kutahan karena orang yang tak kusukai juga ikut mendengar bahwa dompetku tertinggal dan membuatku gengsi dan malu untuk berhutang.

Ketika itu hujan turun dan akupun melihat keluar dan berharap suamiku cepat sampai. Jam demi jam dan detik demi detik berlalu, aku pun makin tidak sabar sehingga mulai menelpon suamiku. Namun aku tak mendapat jawaban walau berkali-kali ku menelponnya. Padahal biasanya cukup dengan dua kali teleponku  berdering pasti sudah diangkatnya. Akupun mulai merasa sangat tidak enak dan sangat marah kepadanya.

Akhirnya setelah beberapa kali mencoba teleponku pun diangkat. Saat suara bentakanku belum keluar,  ku dengar suara asing yang menjawab nya. Lalu aku terdiam  sesaat. Suara lelaki itu terdengar memperkenalkan dirinya, “Siang, bu. Benarkah ibu merupakan istri dari bapak armandi?” dan apun menjawab pertanyaan nya. Lelaki yang menelpon itu ternyata adalah seorang polisi, ia menginformasikan bahwa suamiku mengalami kece lakaan lalu lintas dan saat ini suamiku sedang dilarikan ke rumah sakit terdekat. Saat itu aku hanya diam lalu menjawab terima kasih kepada bapak polisi tersebut. Saat telepon tertutup, aku pun duduk dengan keadaan masih sangat bingung. Tanganku memegang handphone dengan erat, beberapa kali pegawai di salon tersebut datang kepadaku dan dengan sigap bertanya apa yang terjadi yang menimbulkan wajah ku sampai menjadi pucat seperti kertas.

Aku tidak tahu bagaimana prosesnya sehingga aku bisa sampai di rumah sakit. Aku juga tidak tahu  bagaimana prosesnya semua keluargaku ada di rumah sakit menyusulku. Hanya terdiam seribu bahasa sambil kutunggu suamiku di depan UGD. Aku tak tau mengenai apa yang harus kulakukan, karena selama ini suamikulah yang selalu melakukan semuanya untuk diriku. Sampai pada akhirnya setelah menunggu berjam-jam, tepat saat Adzan maghrib bekumandang terdengar seorang dokter  keluar dari UGD lalu menyampaikan berita bahwa…. Suamiku telah meninggal… Suamiku meninggal bukan hanya karena kecelakaan, namun penyakit stroke juga lah yang berkontribusi menyebabkan suamiku meninggal. Setelah mendengar hal tersebut, aku malah si buk dengan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang  sangat shock. Tak ada sedikitpun airmata keluar di mataku. Akupun terlalu sibuk untuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anakku yang sangat bersedih pun  memelukku erat. Namun ke sedihan yang mereka  rasakan sama sekali tidak bisa membuatku menangis.

Saat jenazah suamiku dibawa ke rumah akupun duduk di hadapa jenazahnya. Aku terdiam menatap wajah suamiku itu. Dan baru kali seumur hidupku,  aku benar-benar memperhatikan  wajahnya yang terlihat tertidur dengan pulas. Akupun mendekati wajahnya lalu ku memandangi wajahnya itu dengan seksama….

Disaat itu, ku merasa dadaku terasa sesak mengingat semua yang telah ia berikan kepadaku selama sepuluh tahun kami bersama. Aku sentuh wajahnya yang dingin perlahan dan aku menyadari bahwa  ini adalah pertama kalinya aku menyentuh suamiku yang dahulu selalu dihiasi senyum hangatnya. Airmata pun keluar dari dimataku, mengaburkan pengelihatanku. Dengan sigap aku mengusap agar airmata tak mengaburkan tatapan terakhir ku ini pada suamiku. Aku hanya menginginkan untuk mengingat seluruh bagian pada wajah suamiku agar semua kenangan manis tentangnya tidak menghilang begitu saja. Bukannya berhenti mengais, kini air mataku ini  semakin deras membasahi  wajahku. Aku berusaha menahan air mataku, namun itu membuat dadaku semakin sesak mengingat semua yang sudah kulakukan kepadanya saat terakhir kali kami bicara ditelpon itu.

Mengingat betapa aku sama sekali tidak pernah sekalipun memperhatikan kesehatan suamiku itu. Aku pun tak pernah mengatur suamiku untuk makan, padahal suamiku selalu mengatur apa yang kumakan. Suamiku sangat memperhatikan vitamin serta obat-obatan yang harus kuminum terutama saat aku mengandung dan setelah aku melahirkan. Suamiku tidak pernah lupa mengingatkanku supaya makan dengan teratur, kadang ia pun menyuapiku saat aku sedang malas makan. Namun ironis, aku tidak pernah mengetahui apa saja yang suamiku makan karena aku sendiri tidak pernah bertanya. Bahkan aku tidak mengetahui apa yang suamiku sukai dan yang tidak disukai. Semua keluarga mengetahui bahwa suamiku sangat gemar makan mi instan dan gemar minum kopi kental. Dada ku terasa semakin sesak mengetahuinya, karena aku tau ia  terpaksa makan mi instan karena aku tidak pernah memasak untuk suamiku. Aku hanya memasak untukku dan anak-anakku. Aku pun tidak peduli apakah suamiku sudah makan apa belum saat suamiku pulang kerja. Ia hanya bisa memakan masakanku jika ada sisanya saja. Suamiku pulang larut malam setiap hari karena jarak dari kantor ke rumah cukup jauh. Sebagai istri aku tidak pernah mau menanggapi permintaan suamiku untuk pindah rumah supaya lebih dekat ke kantor, karena disitu aku tidak mau jauh dari rumah teman-temanku.

Ketika pemakaman berlangsung, akupun tidak mampu menahan lagi seketika aku pingsan saat  melihat suamiku terkubur bersamaan dengan tanah yang menimbunnya. Aku tidak tau apa-apa sampai aku terbangun. Aku pun bangun dengan sejuta rasa sesal yang memenuhi rongga di dadaku. Semua keluarga besarku membujukku.. Namun semua itu sia-sia karena mereka tidak pernah taualasan mengapa aku begitu teramat sedih kehilangan dirinya.

Semua hari yang kulewati setelah kepergian mendiang suamiku, bukanlah kenikmatan seperti yang selama ini kubayangkan dan selalu kuinginkan, aku malah terjebak di dalam keinginan untuk selalu bersamanya. Pada hari awal kepergiannya, aku pun duduk terdiam sambil memandang piring yang kosong. Ayah, Ibuku serta ibu mertuaku membujuk ku agar aku mau makan. Tapi yang bisa kuingat hanyalah saat suamiku membujuk ku agar aku mau makan ketika aku sedang ngambek dulu. Saat aku lupa bawa handuk untuk mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa namun yang datang  malah ibuku, aku terdiam dan menangis dengan sedih dalam kamar mandi berharap yang datang adalah suamiku. Kebiasaan aku yang meneleponnya ketika aku tak bisa melakukan sesuatu di rumah, ini membuat semua teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Di setiap malam aku selalu menunggunya di kamar serta berharap besok pagi aku bangun dengan sosoknya di sampingku.

Dahulu aku sangat kesal mendengar suara dengkurannya, namun sekarang aku bahkan sering sekali kuterbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dahulu akupun sangat jengkel karena suamiku  sering berantakan di kamar tidur kami, namun sekarang yang aku rasakan kamar tidur kami terasa sangat hampa dan kosong. Dahulu juga aku begitu marah jika suamiku mengerjakan pekerjaannya  dan meninggalkannya tanpa me-logout laptopku. Sekarang aku hanya bisa memandangi laptopku, mengusap keyboardnya dan  berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di situ. Akupun paling benci saat dia menyeduh kopi tanpa alas di meja, namun sekarang bekas yang tertingga di sarapan pagi terakhirnya tidak mau aku hapus. Remot TV yang biasa ai sembunyikan, dengan mudah ku dapatkan  walau sebenarnya aku berharap bisa mengganti remot tersebut dengan kehilangannya. Atas kebodohan yang  kulakukan itu, aku baru tersadar bahwa dia sangat mencintaiku dan aku sudah pun sudah jatuh cinta kepadanya.

Aku merasa sangat marah pada diri sendiri, marah karena semua terlihat biasa saja walaupun dia sudah tidak ada. Aku marah karena baju miliknya masih disini dan meninggalkan harumnya yang membuatku rindu setengah mati. Aku sangat marah terutama karena aku benar-benar tidak bisa menghentikan semua rasa sesalku ini.Aku marah karena tidak ada lagi orang yang membujuk aku supaya tenang, dan tidak ada lagi yang mengingatkanku untuk shalat walaupun Sekarang aku melakukannya dengan  sangat iklas. Aku shalat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena aku telah sia-siakan suami yang telah Allah berikan kepadaku. Memohon ampun karena sudah menjadi seorang istri yang sangat tidak baik untuk suami yang begitu sempurna. Shalatlah yang hingga sekarang memampukanku menghapus duka ku ini sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku Allah berikan dengan begitu banyaknya perhatian dari keluarga untukku dan anak-anakku. Teman-teman yang selama ini selalu kubela, hampir tak pernah menghubungiku setelah kepergian suamiku.

Tiba dimana 40 hari suamiku meninggalkanku, keluargaku mengingatkan supaya aku bangkit dari semua keterpurukan ku, karena aku masih memiliki dua anak yang menungguku dan harus kunafkahi. Setetika rasa bingung kembali datang menghampiri. Selama ini, aku hanya tau beres dan juga tidak pernah bekerja. Semua hal suamiku yang melakukannya. Seberapa besar pendapatannya  aku juga tidak pernah peduli, yang aku pedulikan hanya jumlah uang yang suamiku kirim ke rekening yang aku pakai untuk memenuhi keperluan pribadiku yang setiap bulannya uang itu habis dan tidak pernah tersisa.

Kantor tempatnya bekerja, memberikan gaji terakhir serta bonus dan kompensasinya. Ketika memperhatikannya aku terkejut dan tak menyangka, karen ternyata seluruh gajinya selama ini  ditransfer ke rekeningku. Namun sama sekali aku tak pernah menggunakan uang tersebut untuk keperluan rumah tangga. Aku tidak tau darimana ia mendapatkan uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama ini, karena aku tidak pernah bertanya meskipun mengenai hal tersebut. Yang ku pikirkan sekarang aku harus bekerjauntuk memenuhi kebutuhan anak-anakku,  dikarenakan jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya tidak akan cukup untuk menafkahi kami bertiga. Tapi aku bekerja di mana? Aku benar-benar tidak pernah memiliki pengalaman sama sekali, karena semuanya ssudah diatur olehnya.

Akhirnya rasa bingungku terjawab. Ayahku datang kerumah bersama seorang notaris. Ayah membawa banyak dokumen. Notaris itu memberikan sebuah surat kepadaku. Sebuah surat pernyataan bahwa suami mewariskan seluruh harta kekayaan nya kepadaku dan anak-anakku, ia menyertakan nama ibunya di dalam surat itu, namun yang membuat aku tak mampu berkata sepatah kata apapun adalah saat membaca isi surat yang ia tulis untukku.

Teruntuk Istriku Liliana yang amat kusayangi,

Maafkan aku, karena aku harus meninggalkanmuclebih dulu, sayangku. Maafkan aku karena aku harus membuatmu bertanggung jawab untuk mengurus semuanya sendirian. Maafkan aku karena aku tidak bisa memberikamu lagi cinta dan kasih sayang. Allah SWT telah memberikanku waktu yang sangat singkat, karena bagiku mencintai dirimu dan juga anak-anak kita adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Andai saja aku bisa, aku selalu ingin agar aku bisa mendampingimu sayang selama-lamanya. Akan tetapi aku tidak mau kalian kehilangan kasih sayangku dengan begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian dan masa depan kalian nanti. Aku tidak ingin dirimu kesusahan sayang setelah aku pergi. Tidak banyak hal yang bisa kulakukan dan berikan, akan tetapi aku berharap dirimu bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayangku.

Janganlah engkau menangis, kesayang ku yang sangat manja. Lakukanlah sebanyak-banyaknya hal yang bisa membuat hidupmu yang hanya terbuang percuma selama ini. Aku memberimu kebebasan untuk mewujudkan semua mimpi serta harapan yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan aku jika aku menyusahkanmu dan semoga Allah SWT  memberimu jodoh yang lebih baik dariku. Memilih calon suami menurut islam, seperti yang sangat kau ingankan dari dulu.

Dan teruntuk Farahku, putri yang amat sangat aku cintai. Maafkan ayah karena ayah tidak bisa mendampingimu lagi. Jika kau sudah besar nanti jadilah istri yang baik seperti Ibu.  Dan  teruntuk Farhan, ksatria pelindung yang amat sangat ayah cintai. Jagalah Ibu dan juga Farah. Jadilah anak yang baik dan ingatlah selalu dimanapun kalian berada, ayah akan selalu ada disana untuk melihat kalian. Ok, Buddddddddy!

Aku pun menangis tersedu-sedu membaca surat itu, dan aku melihat gambar kartun dengan kacamata diberi lidah menjulur has suamiku jika dia mengirimkan note.

Notaris mengatakan bahwa selama ini suamiku mempunyai beberapa asuransi dan tabungan deposito yang berasal dari warisan ayah kandungnya. Suamiku telah  membuat beberapa bisnis dari hasil deposito tabungan dan bisnisnya tersebut cukup berhasil meskipun diurus oleh orang-orang yang ia percaya. Yang bisa kulakukan menangis terharu setelah mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga  saat ajal menjemputnya pun dia tetap membanjiri kami dengan penuh cinta.

Tak pernah terlintas dibenakku untuk menikah lagi, walaupun aku mau memilih calon suami menurut islam. Sebanyak-banyaknya pria yang hadir tidak akan mampu menghapus sosok suamiky yang masih dan selamanya akan begitu hidup di dalam hatiku, didalam lubuk hatiku yang paling dalam. Hari demi hari hanya kuabdikan seluruh hidupku untuk kebahagiaan anak-anakku. Saat orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku untuk selaman-lamanya, tidak satupun dari antara mereka meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi meninggalkan ku untuk selamanya.

Saat ini kedua anak-anakku telah berusia duapuluh tiga tahun. Kurang dari 3 hari lagi putriku akan  menikahi seorang pria dari tanah seberang. Putri kami pun bertanya, “Ibu, apakah yang harus kulakukan nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan tidak bisa memasak, tidak bisa mencuci, bagaimana yah bu?”

Aku memeluknya sambil berbisik “Cintai farahku sayang, cintailah suamimu itu, cintailah dengan sungguh pilihan hatimu itu, cintailah semua yang ia miliki kelebihan maupun kekurangannya, dan kau pun akan mendapatkan segalanya. Karena berkat cinta, kau pun akan belajar bagaimana  menyenangkan hatinya, akan belajar bagaimana menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun masalah, kalian akan menyelesaikan semuanya atas nama cinta. Cinta dari Allah SWT.”

Putriku menatapku sambil berkata, “Seperti cinta ibu untuk ayah, kan bu? Cinta itulah yang telah membuat ibu tetap setia pada ayah hingga sekarang sekarang?”

Aku menggelengkan kepalaku dan menjawab, “bukan sayang, bukan seperti itu, tetapi cintailah suamimu seperti ayahmu begitu mencintai ibu dahulu, dan sama seperti ayah sangat mencintai kalian berdua. Ibu setia kepada ayah, karena cinta ayah yang sangat besar kepada ibu dan kepada kalian berdua.”

Aku mungkin sangat tidak beruntung karena tidak sempat menunjukkan rasa cintaku kepada suamiku itu. Karena aku sudah menghabiskan 10 tahun lamnya hanya untuk membencinya, namun hal itu  menghabiskan seluruh  sisa hidupku untuk mencintainya. Aku mungkin bebas darinya karena kematian, namun satu yang tak pernah bisa membebaskanku, yaitu karena cintanya yang begitu tulus kepadaku.

Memang kesalahaku dulu, seharusnya jika aku ingin memilih calon suami menurut islam, seharusnya aku memperdalam ajaran Allah SWT dan mengamalkannya. Sehingga saat orangtua ku menyuruhku untuk menikah, aku bisa menghentikannya, karena aku ingin memilih calon suami menurut islam dahulu. Namun, karna aku juga dahulu tidak begitu mengimani ajaran Allah, sehingga aku hanya bisa menuruti keinginan kedua orangtua ku. Tapi karna kebaikan Allah SWT, aku diberikan suami yang ternyata teramat sangat mencintaiku dan anak-anakku. Allah tetap memberikan ku suami yang teramat sangat baik, disaat aku tak mampu mewujudkan keinginanku untuk memilih calon suami menurut islam. Namun, akibat rasa benciku ini, aku pun tidak bisa merasakan kasih sayang yang Allah dan mendiang suamiku berikan kepadaku. Semua itu kemudian membuatku harus membayarnya sekarang. Namun, aku sekarang sangat bersyukur kepada Allah SWT, karena dengan semua kejadian ini, aku bisa belajar untuk menjadi istri yang lebih baik untuk mendiang suamiku dan menjadi ibu yang lebih baik pula untuk kedua anakku.

Dije’ers… Jika kalian memang menginginkan untuk memilih calon suami menurut islam, maka amalkan lah dari sejak kalian muda, karena jika sudah terlambat seperti ku, apalah yang bisa kita katakan dan lakukan lagi.
Semoga Dije’ers bisa memilih calon suami menurut islam jika itu benar- benar keinginan Dije’ers yang paling dalam. Karena memilih calon suami menurut islam juga merupakan amanah dari Allah SWT bukan? Semoga tidak ada lagi orang yang mengalami kisah sepertiku ini.

Benci Membuat Kisah Cintaku Begitu Menyedihkan
4.5 (90%) 26 votes

Profile Status
ACTIVE