Anak Durhaka yang Hidup Sengsara Hingga Akhir Hayatnya

Selamat siang sobat dije, kali ini dije akan menceritakan kisah tentang anak yang durhaka. Kisah ini terjadi pada sekitar tahun 2000-an di sebuah keluarga yang tinggal di kota Ciamis. Diharapkan dari kisah anak yang durhaka ini, kita bisa mengambil sisi positif untuk di lakukan di dalam kehidupan kita sekarang.

kisah anak yang durhaka

Kisah anak yang durhaka ini dialami oleh sebuah keluarga di mana sang ayah yang adalah seorang kepala keluarga merupakan seorang supir pribadi memiliki tujuh orang anak, dimana keenam anaknya merupakan laki-laki dan hanya ada satu anak perempuan. Dari antara keenam anak lelaki tersebut, ada yang seorang anak yang durhaka itu. Anak yang durhaka ini bernama Ujang, ia merupakan anak yang sangat nakal, sangat sulit untuk di atur, ia tidak pernah mendengarkan perintah orangtua, ia juga tidak menjalankan perintah agama, ia tidak puasa, tidak shalat, dan orangtuanya pun menyerah karena tidak bisa melakukan kepada Ujang.

Jika keinginan Ujang tidak dituruti, maka Ujang akan mengamuk kepada kedua orangtuanya. Ia pun menghancurkan barang – barang yang ada didalam rumahnya. Orangtuanya sangat bersedih melihat kelakuan Ujang yang seperti ini. Bahkan setelah dewasa pun sikap dan kelakukan ujang tidak berubah. Bahkan ketika dewasa ini, jika keinginan Ujang tidak dikabulkan ia tidak segan – segan mengamcam untuk membunuh kedua orangtuanya tersebut. Sungguh Ujang terlah berubah memjadi anak yang durhaka, anak yang sangat durhaka. Ia tega melakukan hal demikian hanya untuk memuaskan dan memenuhi keinginannya sendiri.

Namun, ketika Ujang sudah dewasa ini juga ternyata ia jatuh cinta kepada seorang gadis cantik yang berasal dari padang, ya berasal dari tanah minang. Gadis itu bernama Putri. Melihat Ujang dan Putri bersama, orangtua Putri pun merasa tidak setuju. Hal ini disebabkan karena orangtua Putri tidak suka dengan kelakuan Ujang yang tidak baik. Namun, cinta memanglah buta, Putri tetap mengejar – ngejar anak yang durhaka tersebut.

Putri juga mengancam kedua orangtua nya tersebut, jika tidak di restui dengan Ujang maka ia akan bunuh diri. Melihat Putri yang tengah di butakan oleh cinta tersebut, semua perkataan dari orangtuanya tidak ada yang Putri dengar dan hiraukan. Akhirnya Ujang dan Putri pun menikah pada tahun 2003. setelah pernikahannya tersebut akhirnya Ujang dan Putri pun dikarunia dua orang anak, yang masing – masing adalah anak laki – laki dan anak perempuan. Di awal pernikahan mereka, mereka hidup dengan bahagia sekali karena mereka memiliki harta yang cukup banyak karena Ujang dan Putri sama – sama bekerja di sebuah Bank Swasta di kota Ciamis.

Namun pada saat usia anaknya meginjak sepuluh tahun kehidupan rumah tangga mereka mulai goyah, karena Bank Swasta tempat mereka bekerja bangkrut lalu Ujang dan Putri pun terkena PHK. Mereka berdua kehilangan pekerjaan dan penghasilan ditambah lagi, karena tidak ada tabungan hidup mereka pun menjadi sangat susah. Saat itulah mereka sering sekali bertengkar dan disitu juga Putri mengatakan bahwa ia ingin bercerai dengan Ujang. Namun, mendengar perkataan ini Ujang menolak dan ingin terus bersama dengan Putri.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Putri. Mereka pergi kesana bersama dengan kedua anaknya. Barulah tinggal dirumah orangtua Putri selama dua bulan, karena tak tahan akhirnya Putri pun mengadukan Ujang kepada orangtuanya. Putri mengadukan bahwa selama menikah dan hidup dengan Ujang, hidup Putri sangat menderita. Mendengar cerita dari Putri tersebut, akhirnya kedua orangtua Putri memutuskan untuk mengusir Ujang dari rumahnya tersebut.

Setelah hampir sebulan Ujang di usir dari rumah orangtua Putri tersebut tak disangka… Putri pun dijodohkan dengan pria yang berasal dari tanah minang juga. Dan tak lama kemudian mereka pun menikah. Mendengar dan melihat semua ini, Ujang merasakan sakit hati yang teramat dalam. Namun Ujang tidak dapat berbuat apa – apa karena Ujang tidak memiliki apa – apa. Ujang si anak yang durhaka tersebut pun hidup terlunta – lunta dikampung orang, ia menjadi stress, ia juga sakit hati, ia pun merasakan depresi. Namun ia tidak bisa berontak karena tidak ada sama sekali sanak saudara Ujang yang tinggal di tanah minang.

Ujang akhirnya tinggal sebatang kara dan juga sengsara, ia menjadi seorang gelandangan di tanah minang tersebut. Ia ingin sekali pulang ke Ciamis, namun ia tidak memiliki ongkos sama sekali. Si anak yang durhaka itu pun sudah seperti orang gila, memikirkan Putri yang belum bercerai dengannya sudah menikah lagi dengan pria lain. Pada suatu hari, dipinggir jalan Ujang bertemu dengan seorang jawa. Seorang jawa tersebut merasa iba dan kasihan melihat kondisi Ujang yang seperti itu. Orang jawa tersebut memberikan Ujang sedikit makanan dan juga mengajak Ujang mengobrol. Ia pun bertanya kepada Ujang, “Dek, darimana asalmu?”. Mendengar pertanyaan tersebut Ujang pun menjawab, “Sayah mah bukan orang sini, sayah ma asalna dari Ciamis. Saya teh mau pulang ke kampung halaman sayah, tapi saya teh tidak punya ongkos”.

Setelah mengobrol selama beberapa waktu, orang jawa yang baik itupun mengajak Ujang untuk pulang ke Ciamis. Orang jawa yang baik tersebut pun mengantarkan Ujang pulang sampai kerumah orangtua Ujang. Sesampainya dirumah orangtua Ujang, orang jawa yang baik tersebut pun menceritakan kisah tentang Ujang yang hidupnya terlunta – lunta bahkan hingga menjadi seorang gelandangan setelah di usir oleh istri nya tersebut di kota Minang.

Mendengar semua yang diceritakan oleh orang jawa yang baik itu, orangtua Ujang menagis sambil memeluk Ujang. Dan mereka juga berterimakasih kepada orang jawa yang baik itu karena ia telah mau mengantarkan Ujang hingga sampai ke Ciamis. Sebagai balasan terimakasih, orangtua Ujang pun memberikan makanan untuk bekal orang jawa yang baik tersebut.

Melihat kondisi Ujang yang depresi dan dengan keterbatasan biaya orangtua Ujang memutuskan untuk membawa Ujang ke paranormal yang tinggal disekitar rumah mereka, namun tetap tidak ada hasil yang signifikan terhadap Ujang. Paranormal tersebut mengatakan bahwa Ujang telah diguna – guna oleh istri nya tersebut supaya menjadi gila. Mendengar hal tersebut orangtua Ujang menangis dan merasa sangat kecewa, karena mengingat dulu Putri lah yang memaksa untuk menikah dengan Ujang. Orangtua Ujang pun merasa sedih karena sudah berobat ke berbagai tempat, namun kondisi Ujang tidak ada perubahan. Akhirnya orangtua Ujang memutuskan untuk merawat Ujang sendiri. Setelah beberapa tahun mengurus Ujang, akhirnya Ayah dan Ibu Ujang pun meninggal dunia.

Ujang pun akhirnya hidup sendirian lagi, tidak ada yang mau mengurus Ujang lagi. Hanya ada satu adik yang mau mengurus Ujang. Ia selalu mengantarkan makanan untuk Ujang dan juga pakaian untuk Ujang gunakan sehari – harinya. Dan adik – adiknya yang lain tidak mau mengurus Ujang karena sikap buruk yang Ujang lakukan dahulu kepada mereka dan juga orangtua nya yang kini telah tiada.

Tak terasa, usia Ujang pun mulai menua. Pada umur Ujang yang ke 43 tahun, Ujang si anak yang durhaka itu pun meninggal dunia. Ia dimakamkan hanya oleh adik yang mengurusnya dan juga beberapa orang yang tinggal disekitar rumahnya. Betapa menyedihkan akhir hidup dari anak yang durhaka ini. Selain itu, setelah beberapa bulan kematian Ujang, anak perempuan Ujang pun ikut meninggal karena ia keracunan makanan. Anak perempuan Ujang dan Putri tersebut tidak di urus oleh ibunya. Sedangkan anak laki – laki Ujang dan Putri yang merupakan anak pertama mereka pergi ke Jawa untuk mencari ayahnya, ya Ujang.

Namun sayang sekali, sesampainya dialamat rumah Ujang yang diberikan oleh Putri, ibunya… Anak laki – laki Ujang tersebut malah di sambut dengan kabar duka bahwa Ujang ayahnya itu telah meninggal dunia tiga bulan lalu. Mendengar hal tersebut, anak laki – laki Ujang pun menangis dan adik yang mengurus Ujang memutuskan untuk merawat dan tinggal bersama anak laki – laki Ujang tersebut.

Anak Durhaka yang Hidup Sengsara Hingga Akhir Hayatnya
1 (20%) 1 vote

Profile Status
ACTIVE