Adab Bepergian dalam Agama Islam

Selamat siang sobat dije, semoga sobat dije sehat selalu dan selalu diberikan rahmat yang luar biasa oleh Allah SWT. Sobat dije, kali ini dije akan membahas salah satu adab dalam Islam. Adab dalam islam apa sih yang akan kita bahas kali ini? Adab dalam Islam yang akan kita bahas kali ini adalah adab bepergian.

adab bepergian

Adab Bepergian merupakan sesuatu hal yang terkadang sering terjadi secara mendadak dan juga tidak dapat dihindari oleh manusia. Bepergian yang dilakukan juga ada banyak tujuannya diantaranya untuk pergi bekerja (mencari rizeki), pergi untuk menunaikan ibadah haji, pergi untuk melakukan kegiatan silaturahmi dengan sanak saudara, dan masih banyak lagi alasan untuk pergi yang sering kita lakukan.

Namun tahukan sobat dije, ternyata meskipun terlihat simple di dalam Islam ini ada adab dalam islam untuk adab bepergian. adab dalam islam untuk adab bepergian ini memiliki beberapa point penting yang bisa membuat kegiatan adab bepergian kita menjadi lebih penuh dengan makna serta memiliki pahal yang mulia di sisi Allah SWT. Adab bepergian ini ada apa aja sih? Simak yuk sobat dije.

  1. Bertaubat kepada Allah SWT dari segala kemaksiatan dan meminta ampun kepada-Nya dari segala dosa serta memulai dengan niat baik.
  2. Mengembalikan barang-barang serta amanat yang bukan merupakan dari hak kita kepada orang yang seharusnya memilikinya. Bayarlah hutang dan dan tinggalkan lah pesan yang baik untuk keluarga.
  3. Pergi bersama orang-orang shalih yang bisa menolongnya bila perlu dan bisa menasihati dan mengingatkannya. Tidak dianjurkan bepergian sendirian. Bagi wanita, ia harus menyertakan mahramnya saat akan bepergian.
  4. Jangan melakukan perjalanan kecuali ke tempat yang mubah. Para ulama sepakat tentang haramnya melakukan perjalanan ke tempat yang haram dan maksiat. Meskipun ia tidak melakukannya, tapi dikhawatirkan akan tergoda dan ikut mengerjakannya juga.
  5. Menaati rambu-rambu jalan raya. Hal ini dilakukan selain untuk  menjaga keselamatan juga membiasakan diri taat pada peraturan.
  6. Membawa perbekalan dan peralatan dalam perjalanan secukupnya.
  7. Jika musafir lebih dari tiga orang disunnahkan mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin. Rasulullah saw bersabda,

إِذَا خَـرَجَ ثَلاَثَةٌ فَِي سَفَرٍ فَلْيُأَمِّرُوْا أَحـَدَهُمْ

“Apabila tiga orang keluar untuk safar, maka hendaklah mereka mengangkat seorang amir dari mereka,” (HR. Abu Daud).

  1. Disunnahkan berangkat safar di pagi hari. Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah, berkahilah bagi ummatku di dalam kediniannya.” (HR Abu Daud).
  2. Berpamitan kepada keluarga, kerabat dan teman-temannya. Jangan di antara keluarga tak ada yang mengetahui kemana kepergian kita. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang akan bepergian hendaklah berkata kepada yang ditinggalkan,

أَسْتَوْدِعُكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ تَضِيْعُ وَدَائِعُهُ

“Kutitipkan engkau kepada Allah yang tidak sia-sia apa yang dititipkan.” (HR. Ahmad, Hasan).

Orang yang tinggal mendoakan orang yang akan bepergian:

زَوَّدَكَ اللهُ التَّقْوَى، وَغَفَرَ ذَنْبَكَ، وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

“Semoga Allah membekalimu dengan taqwa, mengampuni dosamu, dan memudahkan segala kebaikan bagimu di manapun berada.” (HR. Turmudzi, Hasan)

  1. Meninggalkan keluarga bekal yang cukup ketika kita melakukan kegiatan bepergian

Dengan sambil membaca doa safar

Apabila kita menggunakan kenderaan (Sepeda Motor, Mobil atau Pesawat Terbang dan lainnya) bacalah ayat ini:

بِسْمِ اللهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Yang artinya, “Aku pergi dengan nama Allah dan segala puji bagiNya. Maha suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini kepada kami dan tidak ada daya bagi kami untuk menundukkannya karena hanya kepada Allah lah kami kembali. Kemudian sesudah itu kita bisa melanjutkan untuk membaca Alhamdulillah sebanyak tiga kali, dan Allahu akbar sebanyak tiga kali juga. Maha Suci Engkau ya Allah SWT. Sungguh aku telah menganiaya diriku sendiri. Dan aku memohon ampun kepada mu ya Allah. Sungguh tidak ada yang bisa mengamupuni dosa-dosa yang telah aku perbuat selain Engkau ya Allah.” (HR. Turmudzi, Hasan Shahih)

Atau membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ

Yang memiliki arti, “Ya Allah kami memohon kepadaMu semoga di dalam perjalanan yang akan kami lakukan ini hardirkanlah kebajikan, ketaqwaan, serta amal yang telah engkau ridoi’i ya Allah. Ringankan lah juga perjalanan yang akan kami lewati nanti dan dekatlah jarak dari perjalanan ini ya Allah. Karena hanya engkaulah temanku di dalam perjalanan ini ya Allah dan hanya engkau lah yang bisa melindungi kami dan keluarga kami. Ya Allah SWT aku hanya berlindung kepadaMu dari semua nasib dan hal-hal sial di dalam keluarga maupun harta kami,” (HR. Muslim)

Dan pada saat kita pulang hendak lah kita membaca doa tersebut di atas ditambah dengan doa di bawah ini :

آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُ وْنَ

“Ya Allah SWT semoga kami kembali dalam keadaan selamat dan bertaubat, kepada Robb kami memujiMu” (HR. Muslim)

  1. Bertakbir di saat jalan menanjak dan bertasbih di saat menurun, dalam hadits Jabir dikatakan, “Apabila (jalan) kami menanjak, maka kami bertakbir, dan apabila menurun maka kami bertasbih,” (HR Bukhari).
  2. Banyak berdoa dalam perjalanannya, karena doa musafir mustajab (mudah dikabulkan).
  3. Dilarang bepergian dengan membawa anjing dan lonceng, berdasarkan sabda Rasulullah saw:

لاَ تَصْحَبُ اْلمَلاَئِكَةُ رِفْقَةٌ فِيْهَا كَلْبٌ وَلاَ جَرَسٌ

Artinya, “Malaikat tidak akan menemani orang yang membawa anjing dan lonceng,” (HR Muslim).

  1. Disunahkan berkumpul ketika berhenti dan makan. ketika para shahabat berhenti di suatu tempat mereka berkelompok-kelompok dan bercerai berai, maka Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِي هذِهِ الشِّعَابِ وَاْلاَوْدِيَةِ إِنَّمَا ذلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ فَلَمْ يَنْزِلُوْا بَعْدَ ذلِكَ مَنْزِلاً ِإلاَّ انْضَمَّ بَعْضُهُمْ ِإليَ بَعْضٍ حَتَّي يُقَالَ لَوْ بَُسَِطَ عَلَيْهِمْ ثَوْبُ لَعَمَّهُمْ

Artinya, “Sesungguhnya bercerai-berainya kalian dalam kelompok-kelompok dan lembah-lembah ini adalah dari syaitan. Setelah kejadian ini, tidaklah merka berhenti di suatu tempat kecuali sebagian berkumpul dengan yang lainnya sampai dikatakan seandainya dibentangkan kain untuk mereka niscaya pasti akan menjangkau mereka,” (HR Abu Daud dengan Isnad Hasan (2628) dishahihkan al-Albani).

  1. Apabila telah selesai keperluannya hendaknya segera kembali ke kampung halamannya. Nabi bersabda: “……Apabila salah seorang kamu telah menunaikan hajatnya dari safar yang dilakukannya, maka hendaklah ia segera kembali ke kampung halamannya,” (Muttafaq’ alaih).
  2. Jika sampai ke kampung halamannya, tidak masuk ke rumahnya di malam hari, kecuali jika telah memberi tahu keluarga sebelumnya. Jabir menuturkan, “Nabi saw melarang seseorang mengetuk rumah (membangunkan) keluarganya di malam hari.” (Muttafaq’alaih).
  3. Apabila sampai ke kampung halamannya pergi ke masjid terlebih dahulu untuk shalat dua rakaat. Ka`ab bin Malik meriwayatkan, “Bahwasanya Nabi saw apabila datang dari perjalanan (safar), maka beliau langsung menuju masjid dan shalat dua raka`at.” (Muttafaq’ alaih).

 

Adab Bepergian dalam Agama Islam
5 (100%) 1 vote

Profile Status
ACTIVE