Mah,Pah … izinkan aku berhijab syar’i

12

assalamualaikum ukhti 🙂

 

Aku Via (21), saat ini alhamdulilah tetap konsisten berhijab walaupun belum sepenuhnya sempurna (syar’i). Jika orang-orang melihat saya saat ini, mungkin akan berkata “oh ini ngikutin mamahnya yaaa” atau “alhamdulilah ya, anaknya mau dijilbab kayak mamahnya”. Aku cuma senyum sambil melihat mamah merasa malu walaupun sama-sama memakai hijab. “mamah malu kak” itu yang terlontar dari mulutnya, “kenapa mah? bagus dong.. semua orang bakal memandang mamah itu punya pengaruh yang baik buat aku, contohnya aja tentang hijab tadi :)” jawabku-yang sebenarnya tau kalau kenyataanya akulah yang mengajak mamah berhijab. Nah dari cerita ini, aku bakal ngasih tau cerita awal aku berhijab…

Keinginanku untuk berhijab sudah ada ketika SD, iya bukan sekedar lucu-lucuan anak SD pake kerudung (bukan :)). Alasannya karena risi memakai rok selutut dan memakai lengan pendek-walaupun kata mamah rambutku sangat bagus dan sayang jika ditutupi. Rasa takut dan ke hati-hatian pada lingkungan sekitar (gara-gara sering nonton berita sendirian di rumah) membuat aku waspada dan ingin melindungi diri (padahal ilmu agama pun yang diajarkan masih sebatas iqra). Namun keinginanku ditolak mentah-mentah, karena mereka agak “ribet” lihat anaknya memakai rok panjang.

setelah sabar dan menerima jawaban orangtuaku (karena aku takut dosa jika melawan), ketika SMP aku mulai kembali ingin memakai jilbab, suatu hari ketika keluargaku di tempat makan dan aku memakai jilbab-yang aku beli sendiri dengan uang jajanku. Ayahku menertawakanku dia bilang bahwa aku seperti “emak-emak” dan “kampungan”, disusul dengan ketawa ibuku.. iya, sakit rasanya-sampai aku melepas jilbabku sambil menangis. Aku tau aku bukan anak yang cantik dan gaul seperti anak-anak teman orangtuaku, aku cuma ingin pakai jilbab, aku ingin jika aku berada dimana saja aku tenang dan aman.

Aku masih belum berhijab sampai SMA awal.. iya masih belum. Ada lelaki di kelasku berkata “ko kamu ga dikerudung?” saat itu aku spontan jawab “gaboleh sama orangtua”. Iya aku salah, temanku juga mengira aku hanya beralasan dan bingung-masa iya orangtua ngelarang. Hingga saatnya ketika bulan ramadhan-hampir malam ke20 lebih aku gelisah, bosan dengan keadaanku yang sekarang-tidak berjilbab,baju pendek dan aku berdoa kepada Allah, entah apapun jalannya dan hambatannya, aku siap untuk berhijab-apapun respon orangtuaku ataupun teman-temanku.

Iya, aku sudah kebal dan harus bisa melawan semua. Berbekal uang jajan 10rb setiap hari yang aku sisakan sebagian untuk membeli seragam dan kerudung yang panjang-FYI panjang kerudungnya dibawah dada ya 🙂 aku ga tanggung-tanggung buat berkerudung. Dan sampai di sekolah, semua memandangku ada yang pro dan kontra pastinya. Namun lucunya semua mengira bahwa aku dapat hidayah malam lailatul qadar, aku cuma senyum. Jujur, selama aku SMA hingga lulus, uang seragam aku kumpulkan sendiri dan meminjam baju batik sekolah kepada kaka kelas yang sudah lulus (makasih teh Putri :)). Orangtuaku sengaja tidak membelikan aku baju/seragam panjang untuk sekolah maupun keseharianku, apalagi kerudung 🙂 mereka hanya akan membelikan aku baju yang pendek (bukan untuk berhijab).

Pada masa awal kuliah pun mulai menjadi cobaan besar, jika pada SMA aku ke sekolah memakai seragam-yang warna dan bentuk sama setiap harinya. Kini kuliah yang tidak ada seragam dan memungkinkan bergantinya baju setiap hari merupakan ujian bagiku. Aku butuh pakaian untuk mendukung berhijab, namun mamah memberikan penawaran “kalo mau mama belikan  baju, mama bakal beliin kamu baju yang kaya gini (lengan pendek, pas badan)”.

Mungkin mamaku malu dengan sindiran teman-temannya yang berkata “ih anaknya kerudungan, mamahnya kok ngga?”. Hancur duniaku… hancur sudah… karna “kepepet” akupun menerima tawaran mamaku, yaa daripada aku tidak ada baju lagi-karna saat itu aku sedang pertumbuhan dan baju lama memang sudah mulai tidak muat. Awal kuliah, aku lepas hijabku… MALU-sangat. Beberapa teman lamaku bertanya “kerudungnya kemana?” aku hanya mengalihkan pembicaraan, masa iya aku jujur bilang “dilarang sama mamah, gaboleh dikerudung”, aku takut mamaku malu. Iya, aku masih menyelamatkan orangtuaku dengan image baik, sementara aku dipandang kurang baik.

sahabat terbaik

sahabat terbaik

 

Hingga akhirnya, aku bertemu teman yang kembali mendukungku untuk berhijab-walaupun ia takut dengan orangtuaku karena tidak punya hak. Tapi ia mendukung penuh, sehingga aku mulai kembali berhijab di  semester 4-dengan modal 2 buah kerudung yang hampir seminggu aku memakainya bergantian ketika ke kampus. Ketika pulang ke rumah, orangtuaku melihatku berhijab.. Pasrah, biarin dikritik juga gapapa… Namun, mereka sepertinya membolehkan. Akupun kembali membeli kerudung, pashmina dengan uang sendiri seperti dulu. Mamahku mungkin merasa agak malu kalau keluar rumah bareng aku kalau ga dikerudung, ia pun mulai memakai kerudung walaupun kata dia risi dan gerah. Aku mulai mencari cara bagaimana mamahku nyaman berkerudung, video tutorial, buku ttg hijab yang menarik aku belikan agar mamah tidak memandang bahwa berhijab itu kuno (walaupun aku memperlihatkan gaya hijab yg belum syar’i, tapi setidaknya bertahap).

Semester 6 akhir, rasa berhijab “gaul” sudah dalam tingkat bosan, lelah dan tidak nyaman. Aku ingin kerudung yang tidak lilit sana lilit sini, bosan dengan jarum pentul, peniti, cepol rambut, baju mix and match dengan celana bahan-FYI aku udah gasuka pake jeans sejak awal berkerudung ketika kuliah 🙂 dan lain-lainnya yang serba gaul seperti di instagram saat ini.

Ketika aku melihat beberapa akun selebgram yang berhijab syar’i dan teman kampus yang mulai hijrah, ada niat di hati ingin seperti itu. Tapi aku sadar diri, berhijab seperti sekarang saja sudah alhamdulilah walaupun masi banyak cobaan. Namun, keinginan syar’i selalu menghantui-iya setiap malam, setiap shalat dan ketika keluar rumah, apalagi saat berkaca. Ketika jalan ke mall sama keluarga, aku sering iseng berkata “mah pah kalo aku pake baju itu gimana ? bagus kan?” yaaa walaupun mereka tidak menjawab atau bahkan menolak dengan kata-kata “ih ribet itu sih”, “gombrang banget bajunya, susah aktifitas” “kurang cocok di kaka” “ih kayak apaan, ribet”. haha -__- sudah kebal diriku ini. Sampai suatu saat mamah cerita, kalau sebenarnya papa kurang suka kalo mama berhijab, ternyata mama aku berhijab kalo jalan sama aku aja … iya aku kaget, pantas saja anaknya dilarang pakai. Sampai akhirnya aku berkata pada papah ketika debat tentang hijab panjang “pah, aku gamau papah masuk neraka, dosa anak perempuan kan ditanggung papah. Aku kasian sama papah” … Kalian tau ? dari situ papah diem, dan tidak pernah mengomentari aku dan tepatnya membebaskan ku berhijab seperti apapun, walaupun kadang suka menyindir “kaya anak pesantren” ketika aku mulai memakai khimar hahaha gapapa… Yang penting aku nyelamatin papa :). Dan insyallah sehabis lebaran tahun ini juli 2015, aku mulai membeli khimar dan gamis-tentunya ngumpulin sendiri :). Apapun hambatan nanti, Mah Pah … Izinkan aku berhijab syar’i 🙂

Mah,Pah … izinkan aku berhijab syar’i
4.52 (90.37%) 81 votes

0 comments
Profile Status
ACTIVE
Artikel ini sudah dilihat 13213 kali
Share.
  • DIAH PUSPITA WULAN

    woww.. bener2 complicated. tp good lah^^

  • Nina Dahlia

    Ukhti yg sholeha, aku ikut seneeeng bgt krn skrg udah gak ada hambatan lagi. Aku jg hampir mirip kyk ukhti, tp aq msh lbh beruntung krn gak dapet penolakan sekeras ukhti. Tp namanya orgtua kita jd serbasalah, walaupun sbenernya udh dibilang “tdk ada ketaatan dlm kemaksiatan”. Semoga Sang Pemilik hati membukakan hati para orgtua yg msh tertutup kpd perintahNya, semoga hati kita jg sama2 dijaga keistiqomahannya ya ukhti 🙂

    • Aamiin ukhti. Dije selalu percaya, Allah akan bukakan jalan bagi hati-hati yang memiliki niat tulus untuk lurus di jalan Allah. 🙂 Keep istiqomah yaa. ^^

  • anisa

    saya juga merasakan hal yang sama, dimana saya ingin berjilbab syar’i, ibu saya mengomentari “masih kecil, ga usah berjilbab yg kayak orangtua” sedangkan bapak saya tidak suka saya memakai khimar terlalu lebar.. padahal umur saya bisa dikatakan sudah dewasa, seperempat abad.

  • Hartati09

    Waktu proses hijrah saya yang tadinya belum menutup aurat dan langsung menutup dengan jilbab lebar, ibu saya pun berkomentar tidak suka jika saya berjilbab lebar, karena menurut beliau saya terlalu dini untuk memakai jilbab seperti itu.karena ibu saya sendiri pun belum menutup aurat.
    berbeda dengan ayah saya yang sangat mendukung perubahan besar saya, beliau sampai meneteskan airmata, karena menurut beliau saya adalah penyelamatnya dari api neraka.

    • sungguhlah beruntung ukhti memiliki seorang ayah yang pengertian. percayalah, Allah akan bukakan jalan untuk setiap niat baik kita. Keep istiqomah, ukhti! ^^

  • zaskia

    saya skrg juga merasakan hal yg sama..sy memutuskan berhijab sejak 4 Sept. Mamaku sih ga larang..cuma ga ada ekspresi senang aja. Trus papaku jg malah ngeledek..cieeee pke jilbab nih ye..dan ketika sy ngomong klo mau pke jilbab yg sampe nutup dada dan tangan, terutama utk dirumah spy ga ribet klo keluar halaman rumah ga perlu pke lengan panjang, cukup khimar saja. Tp apa komentar mama sy ketika itu, katanya nanti suami sy bakal kabur…jangankan suami kamu, mama juga klo ngeliat kamu pke jilbab pajang gtu bakal kabur. Ga usah terlalu fanatiklah…gitu katanya. Saya langsung sedih dan mau nangis denger mama ngomong spt itu. Cuma bisa doa spy Alloh ksh hidayah ke ortu sy. Sekarang karena sy bekerja, sy masih berjilbab yg biasa sj, namun tdk terlalu byk variasi spt jilbab modis yg pentul sana sini dan ikat2 sana sini.

  • Salsa

    Subhanallah. Semoga Allah melancarkan segala urusanmu. Terharu bacanya sampe nangis

  • kiki

    Sama seperti saya awal mula pakai hijab syar’i dan menutup aurat sepenuhnya dan sering pergii dihari libur untuk kajian malah dibilang aneh dan dikira ikut aliran sesat …. malah sering dimarahi dan dilarang ikut kajian. tapi alhamdulillah setelah aku jelaskan beserta dalil dalam Al Quran ortu mulai mengerti…dan mengijinkan melanjutkan penghijrahan ini …

  • Andi Dara Atikha

    ya Raabb… Innallaaha ma’ana ukh.. alhmdulillaah ana gk dapat kekangan dr orang tua. ishbiir ukh.

  • Andi Dara Atikha

    ya Raabb… Innallaaha ma’ana ukh.. alhmdulillaah ana gk dapat kekangan dr orang tua. ishbiir ukh.

  • altri

    Assalamualaikm ukhtifillah.. cerita diatas sama seperti saya. Saya pun mendapat penolakan dari ibu saya, dari sebelum saya menikah hingga sudah menikah saat ini (meskipun baru menikah kurang dr 1/2 tahun). Dahulu ibu saya menyarankan, ga usah pakai yg hijab yang lebar” nnti yang jadi suami kamu kabur dn bsa lirik perempuan lain, hingga sampai saat ini saya blm juga mengenakan hijab syar’i. Namun, saat ini sedikit demi sdikit saya sedang mengumpulkan pakaian dan hijab syar’i. Ukhty saya mau mnta saran, bagaimana cara meminta ijin kepada suami saya sekarang utk mengenakan pakaian dan hijab syar’i. Karna bagaimanapun ridha istri ada di suami. Saya dan suami saya mmg blm memiliki pemahaman agama yang sangat baik. Namun dsni saya ingin skali menjadi muslimah yang baik skligus istri yang sholehah dn bisa membangun kluarga sakinah mawaddah dan warrahmah serta membawa suami saya arah yg lebih baik lagi yang mempunyai pemahaman ilmu dan akhlak agama yg baik.