Kembali ke dalam pelukan Allah

0

14723123_918490924918679_5496148590742994944_n

Aku mulai berhijab waktu kelas 1 SMP. Awalnya mama ga setuju, karena menurutnya tuh ribet. Aku sembunyi-sembunyi pakai jilbab hingga mama akhirnya luluh. Ketika SMP, aku mulai jatuh cinta pada seorang laki-laki (inisialnya H), tapi dia telah memiliki pacar. Akhirnya aku mundur. Dan tidak lama kemudian, aku justru pacaran sama laki-laki lain yang berinisial F selama kurang lebih satu tahun. Putus pada saat baru masuk SMA karena beda sekolah. Aku sekolah di SMAN 49. Kelas 1 SMA masih bandel, masih jarang shalat. Aku merasa jadi wanita yang sombong karena bisa sekolah di salah satu sekolah favorit. Pada saat kelas 2 SMA, aku masuk jurusan IPS. Makin menjadi-jadi sombongnya. Aku males belajar, males sholat. Aku kira, aku bisa jadi salah satu siswi yang berprestasi di jurusanku. Tapi, pada saat pengambilan rapot, semuanya sirna. Aku sedih. Aku malu sama mama, sama teman-teman, malu sama Allah. Aku nangis sejadi-jadinya minta ampun sama Allah, aku bilang mau berubah ke Allah. Semester dua pas kelas 2 SMA itu aku mulai mengubah diri aku, yang tadinya males belajar, males sholat, aku jadi makin rajin sholat wajib, sholat sunnahnya, dan tadarusannya. Aku minta peringkat 10 besar di kelas, Allah kasih. Aku bahagia doa ku dikabulin Allah. Naik kelas 3 SMA, aku makin jadi ibadahnya. Tiap istirahat pertama selalu lari ke mushola, sholat dhuha. Aku selalu minta apapun itu ke Allah. Aku minta peringkat 10 besar lagi, Allah kasih lagi. Tentunya aku ga lupa belajar ya. Aku belajar mati-matian loh. Hingga pemilihan jurusan untuk masuk ke PTN, Allah masih kasih aku hadiah yang luar biasa. Aku minta ke Allah izinkan aku kuliah di UI jurusan Sastra Cina atau Ilmu Perpustakaan jika lewat jalur SNMPTN, izinkan aku menuntut ilmu jurusan Ilmu Ekonomi UI jika lewat jalur tes SBMPTN atau SIMAK UI. Allah kasih aku hadiah di jalur yang pertama. Ya Allah bahagiaaaaa. Semenjak Allah kabulin doaku pas semester kedua di kelas 2 SMA, aku percaya keajaiban doa dan usaha, dua hal itu harus seimbang. Dari jadi maba hingga awal semester 4 aku masih menerapkan itu (sholat wajib dan sunnah, selesai sholat selalu berdoa panjang lebar, tadarusan, hati yg selalu berdzikir).

Tapiiiii……ada seorang lelaki yg mulai mendekati aku. Dia adalah teman SMP ku, laki-laki yang pernah aku suka pada saat SMP. Awalnya aku bodo amatan, ga penting. Ternyata di dunia benar-benar ada setan ya. Laki-laki itu bilang kalau dia mimpi menikah dengan seorang wanita, anaknya ga cantik tp manis. Dia bilang gitu ke aku. Pas aku tanya kenapa bisa mimpiin wanita itu, dia bilang, “Pada saat itu w lagi terpuruk, setelah tahajud, doa ke Allah minta diberikan sosok yang bisa bikin w semangat lagi. Allah kirimkan dia ke mimpi w.” Awalnya dia ga percaya, mungkin cuma bunga tidur. Tapi dia mimpiin wanita itu lagi, mimpi menikah dengan wanita itu lagi. Akhirnya dia jujur ke aku kalau wanita yang ada di mimpi itu adalah aku. Aku kaget dong. Kenapa bisa? Kenapa harus aku? Dia bilang, “Karena hati w tersentuh sama sikap lo, Syif. Temen-temen w yg cewek banyak yg nasehatin w, tp cuma bilang sabar. Beda sama lo Syif. Beda banget. Ketika w cerita masalah kehidupan w ke lo, lo yang bisa bikin w tenang. Lo yang kasih saran ke w untuk mengadukan semuanya hanya ke Allah. Gitu Syif.”

 

Hingga pada suatu hari, dia menyatakan perasaannya ke aku. Aku ragu, harus jawab apa. Tapi ini bener-bener ada setan. Setan bilang, “Terima aja. Dia laki laki yg pernah lo suka pas SMP. Kesempatan lo nih!” Dan aku jawab IYA. Dua – tiga bulan awal pacaran, aku belum merasakan sayang ke dia, masih sekadar suka aja. Lama kelamaan jadi makin sayang. Peran setan sih ini. Masuk bulan ke-4, aku makin sayang sama dia, dia makin sayang sama aku. Dia bilang kalau aku adalah wanita penting dalam hidupnya setelah uminya, aku adalah penyemangat hidupnya setelah Allah dan orang tuanya. Dia yang bilang, semenjak sama aku, hdiup dia berubah, dia merasa jauh lebih baik. Dia yang bilang kalau dia ga akan ngelepasin aku untuk laki-laki manapun. Dia yang bilang kalau dia ingin menghalalkan aku secepatnya. Dia yang selalu ada dalam doaku. Dia yang selalu aku tungguin pulang kerja kalo dia pulang malem/tengah malem, bahkan pagi. Dia yg selalu memprioritaskan aku dibandingkan teman-temannya. Dan akupun juga demikian. Aku makin jauh dari Allah, makin jauh dari keluarga dan sahabat. Aku, yg selalu doa panjang lebar sehabis sholat wajib ataupun sunnah, ini malah selalu nyari HP pas abis sholat, aku jadi jarang tadarusan.

Setelah satu tahun pacaran, ada “ujian” dalam hubungan kami. Aku merupakan tipe wanita yang cemburuan, dia punya sahabat, inisialnya K. Pacarku kirim emot peluk ke sahabatnya itu. Aku tau aku salah, aku berlebihan. Ga seharusnya cemburu sama K sampai segitunya. Apalagi K juga udah punya pacar. Mereka bersahabat sejak kelas 1 SMP. Aku yang salah. Sampai aku jatuh sakit tipus waktu awal bulan April 2016. Pacarku itu datang. Kami mengobrol berdua dan dia bilang rasa sayangnya berkurang 40%. Dia kesel sama sikap aku yang berlebihan. Dia merasa “dikurung” semenjak pacaran sama aku. Setelah berdiskusi, dia memberikan aku kesempatan untuk mengembalikan rasa sayang dia ke aku seperti semula. Oke, akhirnya berhasil. Dari bulan Mei sampai awal November hubungan kita baik-baik aja walaupun ada beberapa masalah kecil yg bikin aku marah banget. Ketika dia bohongin aku pergi main ke puncak tengah malam, padahal aku udah bilang jangan pergi main, karena sikon kerja dia yang ga normal, kerja 12 jam sehari sebagai staff hotel. Akhirnya dia jujur sama aku kalau dia bohong. Aku mulai berubah, marahku bukan ngamuk-ngamuk ga jelas, marahku diam. Aku diamkan dia selama kurang lebih 3 jam. Dia yang merengek minta maaf sama aku, dia merengek ga akan ngulangin lagi. Oke aku maafin. Ga lama dari itu, dia jatuh sakit. Dia ngemis-ngemis ke aku untuk jenguk dia ke rumahnya. Iya aku jengukkin.

Ada lagi masalah kecil lain, yaitu pada saat dia cerita ke sahabatnya bahwa dia tiba-tiba kepikiran sama mantan gebetannya yang cantik, putih bersih, dan berkerudung, tapi dia bilang kalau wanita itu ga mau diajakin sholat dan pergaulannya bebas banget, sering minum dan clubbing. Akhirnya dia ninggalin wanita itu dan “jatuh” ke aku. Aku marah dong, kenapa cerita hal hal itu ke sahabatnya. Dia bilang iseng. Aku tambah marah pas dia bilang gitu. Tapi marahku diam. Dia minta maaf, ngemis-ngemis minta maaf ke aku, janji ga akan ngulangin lagi. Untungnya, sahabatnya itu ga nanggepin, justru bilang ke dia untuk fokus ke aku aja. Ok aku maafin.

Ga lama dari kejadian itu, dia jatuh sakit lagi. Dengan inisiatif, aku jenguk dia. Aku rawat dia sampai dia merasa lebih baik. Waktu itu dia lagi sakit maag karena telat makan. Aku banyak berbincang sama uminya, kami merasa cocok, karena memang dia bilang kalau kepribadian aku persis banget dengan uminya, makanya dia sayang banget sama aku, katanya. Pas aku pulang, uminya bilang kalau umi suka banget sama aku, wanita berhijab dan sholat, uminya beruntung banget kalo punya menantu seperti aku.

Entah kenapa awal November dia berubah. Aku masih positif thinking. Hingga tanggal 6 November dia memutuskan untuk putus denganku. Rasanya…kesambar petir, sakit, perih, nyesek. Apa alasan dibalik keputusan dia? Dia bilang mau memperbaiki diri, dia laki-laki hina, udah umur 21 tahun tp ilmu agama nya masih belum ada apa-apanya. Dia mau bahagiain umi dan abinya. Dia mau jadi anak yang sholeh buat orang tuanya. Semenjak pacaran sama aku, saking sayang dan cintanya sama aku, dia jadi lupa sama Allah, lupa sama Rasul dan sunnah-sunnahnya, lupa silaturahmi sama keluarga dan sahabat-sahabatnya, lupa kalau dia punya dunianya sendiri. Dia minta aku untuk fokus kuliah, fokus karir dan kejar S2 ke Cina, tanpa mikirin dia, dan dia juga begitu. Dia menyalahkan aku kalau aku udah ngatur-ngatur hidupnya. Dia lupa apa gimana ya? Dia yg bilang kalo dia bahagia dan bersyukur punya aku yg bisa mengatur hidup dia jadi laki-laki yg lebih baik.

Laki-laki itu loh yg ngajakkin nikah akhir tahun ini, aku tolak karena blm lulus kuliah. Lalu dia ngajakkin nikah tahun 2018, aku nego thn 2020 dia ga mau, nego thn 2019 dia ga mau. Dia kekeuh tahun 2018 mau nikah sama aku, dan aku IYA-in. Aku sampai hampir membuang semua cita-citaku yg mau lanjut kuliah di Cina atau Taiwan demi dia doang.

Dia loh yg bilang ke teman-teman kampus dan kantornya kalau aku calon istrinya, dan dia bilang kalo hati dia udah mantap mau jadiin aku istri dan ibu dari anak-anaknya nanti. Terus aku sekarang ditinggalin? Dua minggu putus, aku galau banget. Hampir 3 minggu aku doa ke Allah nangis meraung-raung, sakiiiit hati Ya Allah. Aku nangis meraung-raung ke Allah minta Allah ampunin dosa-dosa ku selama maksiat 20 bulan. Aku minta ke Allah untuk bantu aku berhijrah. Aku bilang ke Allah kalau aku mau berubah jadi Syifa yang dulu, wanita yang jomblo lima tahun, yang hatinya selalu berdzikir (semampu aku), wanita yang mulutnya selalu kumat-kamit memanjatkan doa yang panjang kali lebar ke Allah, wanita yang tiap hari baca Al-Qur’an. Aku bilang ke Allah aku mau berubah jadi wanita sholehah untuk bapak dan mama, aku ga mau terus-terusan maksiat dan berada di jalan yang salah. Aku mau kembali ke pelukan Allah. Aku bilang ke Allah untuk bantu aku berhijrah. Aku mau dijemput jodohku dengan cara yang baik sesuai ajaran Islam.

Hampir satu bulan ga komunikasi sama dia, hampir satu bulan aku kembali ke pelukan Allah, hati ini mulai tenang dan membaik. Tapi aku mau cari cara untuk lebih tenang lagi. Aku mau ikut pengajian ini itu. Aku mau cari ilmu agama Islam yang banyaaaaakk. Aku mau bergaul dengan orang-orang yg shalih dan shalehah agar di pikiran dan hati aku selalu ada Allah, Rasulullah, dan orang tua. Aku mau disayang-sayang lagi sama Allah sebelum aku kenal laki laki itu. Aku mau kembali ke pelukan Allah.

Ya Allah, bantu aku untuk mewujudkan semua harapan dan cita-citaku. Allahumma aamiin…

Kembali ke dalam pelukan Allah
4.68 (93.6%) 25 votes

Profile Status
ACTIVE
Artikel ini sudah dilihat 0 kali
Share.