Antara Cosplay dan Hijab syar’i

0

Aku pun bingung…

antara memilih cosplay atau hijab syar’i. disatu sisi aku suka karakter anime dan ingin sekali cosplay-in salah satu dari karakter anime tersebut. permasalahannya adalah karakter anime itu kebanyakan tidak memakai kerudung, bahkan jarang sekali dan hampir tidak pernah lihat, sedangkan aku memakai kerudung. jadi aku harus mengikuti model rambut karakter anime tersebut.

hijrah duniajilbab

Dan setelah aku pikir pikir, aku pun sedang dalam proses Hijrah, jadi mungkin sebaiknya aku tinggalkan dan lupakan pemikiran untuk cosplay. tapi ku masih berfikir-fikir terus. dan kemudian aku memutuskan untuk memakai hijab syar’i dan tinggalkan cosplay, aku berfikir untuk apa cosplay, karena cosplay kebanyakan bajunya juga pendek pendek. jadi aneh juga kalo cosplay nya diganti memakai kerudung. jadi ku putuskan untuk memakai hijab syar’i, karena aku ingin mencari ridho Allah, dan semata-mata karena Allah, semoga aku selalu Istiqomah di jalan-NYA.

Buat yang belum tahu tentang cosplay, dije share sekilas tentang cosplay beserta pandangan islam:

Pengertian dari Cosplay
Cosplay (コスプレ pelafalan Jepangnya: Kosupure) adalah istilah bahasa Inggris buatan Jepang (wasei-eigo) yang berasal dari gabungan kata “costume” (kostum) dan “play” (bermain). Cosplay berarti hobi mengenakan pakaian beserta aksesoris dan rias wajah seperti yang dikenakan tokoh-tokoh dalam anime, manga, dongeng, permainan video, penyanyi dan musisi idola, dan film kartun. Pelaku cosplay disebut cosplayer, Di kalangan penggemar, cosplayer juga disingkat sebagai layer.

Sejarah Cosplay di Dunia
Sejak paruh kedua tahun 1960-an, penggemar cerita dan film science fiction di Amerika Serikat sering mengadakan konvensi science fiction atau fiksi ilmiah. Peserta konvensi mengenakan kostum seperti yang dikenakan oleh tokoh-tokoh film fiksi ilmiah seperti Star Trek. Budaya Amerika Serikat sejak dulu mengenal bentuk-bentuk pesta topeng (masquerade) seperti dalam perayaan Haloween dan Paskah.

Pada waktu itu, peserta konvensi menyangka Mari Kotani mengenakan kostum tokoh manga Triton of the Sea karya Osamu Tezuka. Kotani sendiri tidak berusaha keras membantahnya, sehingga media massa sering menulis kostum Triton of the Sea sebagai kostum cosplay pertama yang dikenakan di Jepang. Selanjutnya, kontes cosplay dijadikan acara tetap sejak Nihon SF Taikai ke-19 tahun 1980. Peserta mengenakan kostum Superman, Atom Boy, serta tokoh dalam Toki o Kakeru Shōjo dan film Virus. Selain di Comic Market, acara cosplay menjadi semakin sering diadakan dalam acara pameran dōjinshi dan pertemuan penggemar fiksi ilmiah di Jepang.

Tradisi penyelenggaraan konvensi fiksi ilmiah sampai ke Jepang pada dekade 1970-an dalam bentuk acara peragaan kostum (costume show). Di Jepang, peragaan “cosplay” pertama kali dilangsungkan tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi fiksi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17.

Kritikus fiksi ilmiah Mari Kotani menghadiri konvensi dengan mengenakan kostum seperti tokoh dalam gambar sampul cerita A Fighting Man of Mars karya Edgar Rice Burroughs. Gak hanya Mari Kotani menghadiri Nihon SF Taikai sambil ber-cosplay. Direktur perusahaan animasi Gainax, Yasuhiro Takeda memakai kostum tokoh Star Wars.

Istilah “Tominoko-zoku” diambil dari nama sutradara film animasi Gundam, Yoshiyuki Tomino, dan sekaligus merupakan parodi dari istilah Takenoko-zoku. Foto peserta cosplay yang menari-nari sambil mengenakan kostum robot Gundam juga ikut dimuat. Walaupun sebenarnya artikel tentang Tominoko-zoku hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, artikel tersebut berhasil menjadikan “cosplay” sebagai istilah umum di kalangan penggemar anime.

Sebelum istilah cosplay digunakan oleh media massa elektronik, asisten penyiar Minky Yasu sudah sering melakukan cosplay. Kostum tokoh Minky Momo sering dikenakan Minky Yasu dalam acara temu darat mami no RADI-karu communication yang disiarkan antara lain oleh Radio Tōkai sejak tahun 1984. Selanjutnya, acara radio yang sama mulai mengadakan kontes cosplay. Dari tahun 1989 hingga 1995, di tv asahi ditayangkan ranking kostum cosplay yang sedang populer dalam acara Hanakin Data Land.
Majalah anime di Jepang sedikit demi sedikit mulai memuat berita tentang acara cosplay di pameran dan penjualan terbitan dōjinshi. Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut “Tominoko-zoku” ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak Gundam. Kelompok “Tominoko-zoku” dikabarkan muncul sebagai tandingan bagi Takenoko-zoku (kelompok anak muda berpakaian aneh yang waktu itu meramaikan kawasan Harajuku).

Sekitar tahun 1985, hobi cosplay semakin meluas di Jepang karena cosplay sudah menjadi sesuatu hal yang mudah dilakukan. Pada waktu itu kebetulan tokoh Kapten Tsubasa sedang populer, dan hanya dengan kaus T-shirt pemain bola Kapten Tsubasa, orang sudah bisa “ber-cosplay”.

Kegiatan cosplay dikabarkan mulai menjadi kegiatan berkelompok sejak tahun 1986. Sejak itu pula mulai bermunculan fotografer amatir (disebut kamera-kozō) yang senang memotret kegiatan cosplay.

Pembagian cosplay.
Secara umum cosplay dinilai sama. Tetapi tak langsung dalam beberapa event yang terjadi di Indonesia sering dilakukan pembagian/kategori cosplay :
Cosplay anime/manga. Cosplay yang berasal dari anime maupun manga. Biasanya manhwa termasuk didalamnya termasuk comic dari amerika.

Cosplay Game. Cosplay yang berasal atau mengambil dari karakter di Game.

Cosplay Tokusatsu. Cosplay yang berasal atau mengambil dari karakter di film tokusatsu.

Cosplay Gothic. Cosplay yang berasal atau mengambil dari karakter bernuansa gelap atau Gothic. Biasanya digabung dengan Lolita.

Cosplay Original. Cosplay yang benar-benar original tidak ada di anime, tokusatsu dan lainnya. Atau memiliki dasar yang sama seperti tokoh game Kingdom heart misalnya: Sora (Kingdom Heart) tetapi berbentuk metalic (modern)

Harajuku Style. Beberapa cosplayer sering menduga Harajuku style adalah bagian dari cosplay. Beberapa Harajuku style muncul di manga/anime seperti Nana.

Demikian hal-hal yang saya paparkan tentang cosplay. sekarang saya akan coba membahas bagaimana Islam memandang cosplay tersebut.

Kita sudah mengetahui sendiri bagaimana asal usul cosplay tersebut. Sudah jelas saya tuliskan tentang sejarah cosplay dari sumber yang saya dapat, disana terlihat sendiri bahwa COSPLAY bukanlah BERASAL dari ISLAM. Ingat tentang hadits rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasalam :
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidho‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269)
Sebagai seorang muslim, tentunya kita tidak ingin digolongkan kepada golongan yang bukan golongan Nabi Muhammad shalallaahu ‘alaihi wasalam. Sudah jelas bahwa kita DILARANG untuk ber-tasyabbuh atau meniru sebuah golongan.

Mengapa Tasyabbuh Terhadap Orang-Orang Kafir Dilarang ?
1.  Semua perbuatan orang kafir pada dasarnya dibangun di atas pondasi kesesatan (dhalalah) dan kerusakan (fasad).
Inilah sebenarnya titik tolak semua perbuatan dan amalan orang-orang kafir, baik yang bersifat menakjubkan anda atau tidak, baik yang dzahir (nampak nyata) kerusakannya ataupun terselubung. Karena sesungguhnya yang menjadi dasar semua aktivitas orang-orang kafir adalah dhalal (sesat), inhiraf (menyeleweng dari kebenaran), dan fasad (rusak). Baik dalam aqidah, adat-istiadat, ibadah, perayaan-perayaan hari besar, ataupun dalam pola tingkah lakunya.
Adapun kebaikan yang mereka perbuat hanyalah merupakan suatu pengecualian saja. Oleh karena itu jika ditemukan pada mereka perbuatan-perbuatan baik, maka di sisi Allah Ta’ala tidak memberi arti apapun baginya dan tidak diberi pahala sedikitpun. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan Kami hadapi amal yang mereka kerjakan, kemudian Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

  1. Dengan bertasyabbuh terhadap orang kafir, maka seorang muslim akan menjadi pengikut mereka.
    Yang berarti dia sudah menentang atau memusuhi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya . Dan dia akan mengikuti jalur orang-orang yang tidak beriman. Padahal dalam perkara ini terdapat peringatan yang sangat keras sekali, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalannya orang-orang yang tidak beriman, Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
  2. Hubungan antara sang peniru dengan yang ditiru seperti yang terjadi antara sang pengikut dengan yang diikuti yakni penyerupaan bentuk yang disertai kecenderungan hati, keinginan untuk menolong serta menyetujui semua perkataan dan perbuatannya.
    Dan sikap itulah yang menjadi bagian dari unsur-unsur keimanan, di mana seorang muslim tidak diharapkan untuk terjerumus ke dalamnya.
  3. Sebagian besar tasyabbuh mewariskan rasa kagum dan mengokohkan orang-orang kafir.
    Dari sana timbullah rasa kagum pada agama, kebudayaan, pola tingkah laku, perangai, semua kebejatan dan kerusakan yang mereka miliki. Kekagumannya kepada orang kafir tersebut akan berdampak penghinaan kepada As-Sunnah, melecehkan kebenaran serta petunjuk yang dibawa Rasulullah  dan para salafush shalih (pendahulu umat Islam yang shalih). Karena barangsiapa yang menyerupai suatu kaum pasti sepakat dengan fikrah (pemikiran) mereka dan ridha dengan semua aktivitasnya. Inilah bentuk kekaguman terhadap mereka. Sebaliknya, ia tidak akan merasa kagum terhadap semua hal yang bertentangan dengan apa yang dikagumi tersebut.
  4. Musyabbahah (meniru-niru) itu mewariskan mawaddah (kasih sayang), mahabbah (kecintaan), dan mawalah (loyalitas) terhadap orang-orang yang ditiru tesebut.
    Karena bagi seorang muslim jika meniru dan mengikuti orang-orang kafir, pasti dalam hatinya ada rasa ilfah (akrab dan bersahabat) dengan mereka. Dan rasa akrab dan bersahabat ini akan tumbuh menjadi mahabbah (cinta), ridha serta bersahabat kepada orang-orang yang dia kagumi. Ada sebuah hadits yang Rasulullaah shallallaahu’alaihi wa sallam

Dari Anas bin Malik radhiallaahi anhu dia berkata :

“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat terjadi wahai Rasulullah ?” beliau menjawab, “Apa yang sudah kau persiapkan untuknya ?” Laki-laki itu menjawa, “Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa ataupun sedekah namun aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka beliau bersabda :”Kamu akan bersama dengan orang yang kamu cintai”” (HR Al-Bukhori no. 5705 dan Muslim no. 2639)

Sudah jelas rasulullah sampaikan bahwa kita kelak akan bersama dengan orang yang kita cintai. Bila kita mengagumi para cosplayer yang jelas-jelas agamanya bukan Islam dan tidak membawa kebaikan dan sudah jelas tempat kembali mereka adalah Neraka. Maukah kita ikut masuk neraka ?

Sahabatku yang Allah cintai,
sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim menggunakan hukum syara’ dalam kehidupan ini dalam berbagai hal. Apakah hukumnya haram, mubah, wajib, sunnah ataukah makruh ?
tentunya kita jangan sia-siakan hidup ini dengan hal yang tidak berguna, karena tujuan hidup kita di dunia ini hanyalah semata-mata untuk beribadah kepada Allah subhahu wa ta’ala.

Mungkin hanya demikian yang bisa saya tuliskan disini, mohon maaf apabila ada hati yang terluka atau kesalahan yang saya buat dalam tulisan ini. Mohon koreksi apabila ada yang salah saya sampaikan, disini kita berbagi ilmu untuk kebaikan kita semua. Karena kewajiban setiap muslimlah untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

wassalamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh. Salam hangat, dije.

 

Disadur dari sumber: kharidahafifah dot blogspot dot com

Antara Cosplay dan Hijab syar’i
4.82 (96.36%) 11 votes

Profile Status
ACTIVE
Artikel ini sudah dilihat 0 kali
Share.